Review : Perfect Strangers (2016)
“We have everything in here (mobile phone). It’s the black box of our lives. How many couples would split up if they saw each other’s phones?”
Tanyakan kepada dirimu sendiri: seberapa jauh kamu mengenal orang-orang yang kamu sebut sebagai teman, kekasih, maupun suami/istri? Apakah kau benar-benar yakin bahwa mereka mampu sepenuhnya dipercaya? Benarkah tidak ada diam-diam beracun yang disembunyikan rapat-rapat oleh mereka darimu? Bagaimana bila ternyata mereka sejatinya tidak lebih dari orang ajaib yang kebetulan saja menerima sebutan ‘sahabat, kekasih, maupun suami/istri’? Hmmm. Pertanyaan-pertanyaan ‘baper’ yang bisa jadi sempat menggelayuti pikiran kita ini menjadi landasan utama bagi Paolo Genovese untuk menghasilkan film layar lebar terbarunya yang bertajuk Perfect Strangers (dalam bahasa Italia berjudul Perfetti sconosciuti). Paolo bersama empat rekannya memformulasikan sederet pertanyaan tersebut ke dalam skrip yang lantas diejawantahkannya menjadi bahasa gambar. Demi membuatnya terasa kian menggigit, si pembuat film menyelubunginya dengan komentar sosial terkait dampak negatif dari kemajuan teknologi. Dampak negatif yang dijlentrehkan Paolo melalui Perfect Strangers yakni bagaimana teknologi telah merenggut habis privasi masyarakat modern melalui aplikasi maupun situs pertemanan (ironis!) dan bisa berkembang menjadi sebagai ancaman laten bagi hubungan antar insan apabila tidak dipergunakan secara bijak. Dramaaaaaa!
Guliran penceritaan Perfect Strangers mempertemukan penonton dengan tujuh teman lama yang konfigurasinya terdiri atas tiga pasangan menikah dan satu duda. Pasangan pertama yakni Lele (Valerio Mastandrea) dan Carlotta (Anna Foglietta) yang tidak lagi saling berkomunikasi secara intens. Pasangan kedua ialah pengantin gres, Cosimo (Edoardo Leo) dan Bianca (Alba Rohrwacher), yang gairah seksual keduanya masih menggebu-nggebu. Pasangan ketiga yaitu Rocco (Marco Giallini) dan Eva (Kasia Smutniak) yang menapaki fase sebagai orang renta dari seorang akil balig cukup akal. Sementara sang duda adalah Peppe (Giuseppe Battiston) yang telah memiliki kekasih gres. Ketujuh sobat ini berkumpul dalam sebuah jamuan makan malam yang dihelat di apartemen milik Rocco dan Eva. Mengingat mereka telah cukup usang tidak saling bersua, maka setumpuk obrolan dengan berbagai topik yang amat acak pun terus mencuat hingga jadinya Eva memutuskan untuk membuat sebuah permainan menarik sekaligus ‘berbahaya’. Eva meminta setiap personil yang hadir untuk meletakkan ponsel cerdas masing-masing di atas meja makan lalu membiarkan seluruh pesan atau telepon yang masuk ke ponsel mereka diketahui oleh semuanya, tanpa terkecuali. Mulanya, permainan ‘tak ada diam-diam diantara kita’ ini berlangsung menyenangkan. Namun dikala belakang layar-rahasia besar mulai terungkap, kesenangan tersebut berubah menjadi tragedi yang seketika menggoyahkan ikatan akad nikah dan persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Perfect Strangers mengawali penceritaan dengan sekelumit babak introduksi yang menyoroti persiapan tiga pasangan sebelum menghadiri jamuan makan malam (Peppe gres diperkenalkan di lokasi program). Tidak mendalam, tapi cukup untuk memberi kita gambaran mengenai korelasi yang terjalin diantara mereka; Lele-Carlotta dingin, Cosimo-Bianca menggelora, sementara Rocco-Eva cenderung berada di tengah-tengah. Begitu beranjak ke apartemen Rocco dan Eva yang akan menjadi panggung utama berlangsungnya ‘pertempuran’ sepanjang sisa durasi, Paolo lantas menyodori penonton dengan tek tokan remeh temeh antar sobat yang berfungsi untuk menegaskan korelasi ketujuh manusia ini sekaligus untuk menggelitik saraf tawa penonton. Dari dialog-dialog ini, kita pun menyadari bahwa guliran cerita Perfect Strangers bergantung sepenuhnya pada kekuatan obrolan yang dikreasi oleh lima penulis naskah. Apabila materi pembicaraannya lembek, lalu chemistry antar pelakon tak bertenaga, dan penyuntingan kurang lincah, Perfect Strangers jelas berada dalam masalah besar. Beruntungnya apa yang terjadi justru sebaliknya. Obrolan ringan yang menghiasi belasan menit awal bertahap mengalami eskalasi, utamanya usai Eva menetapkan untuk menawarkan bumbu pedas pada malam reuni kecil-kecilan ini. Disamping biar makan malam bersama ini terasa hidup (tentu tak akan ada tamu yang sibuk dengan ponselnya sendiri), tujuan Eva mencetuskan permainan ‘tak ada diam-diam diantara kita’ ini yaitu mengetes kejujuran – meski sejatinya telah melanggar privasi. Dia menantang, “jika memang tidak ada yang disembunyikan, kenapa harus takut?”
Tentu saja, Paolo tidak membiarkan pesan atau telepon yang masuk ke ponsel para abjad berada di taraf kondusif. Kalau sebatas berafiliasi dengan bisnis maupun panggilan dari kerabat atau teman, dimana asyiknya? Mesti ada ketegangan dong! Maka dari itu, si pembuat film menyelipkan belakang layar pada masing-masing aksara. Tingkatannya bermacam-macam, ada yang biasa-biasa saja, sedang-sedang saja, sampai parah sekali yang seketika membuat ledakan hebat di meja makan dan memberi penonton suatu tontonan yang menarik – momen terbaik ialah saat dua tamu bertukar ponsel yang tanpa disangka-sangka malah bikin geger alasannya adalah dua pesan sederhana. Tidak ada yang terbebas dari konflik, tidak ada putih higienis di sini. Ketika kamu menduga bahwa satu dilema telah cukup menggegerkan, tunggu sampai kau mendengar rahasia lain yang siap diungkapkan. Yang terperinci, Paolo tidak akan membiarkanmu terserang jenuh hingga jatuh terlelap di pertengahan durasi alasannya kolaborasinya bersama para penulis naskah yang mengkreasi dialog-dialog cepat nan tajam, penyunting gambar yang cekatan dalam menyusun ritme film, serta pemain ansambel dengan chemistry menyengat, memungkinkan Perfect Strangers untuk mempunyai cita rasa mencekam dan mencengkram dari menit ke menit. Itulah mengapa menyaksikan Perfect Strangers yang dijual sebagai tontonan satir ini tak ubahnya menonton sebuah gelaran thriller. Kamu tidak akan rela memalingkan muka barang sejenak dari layar alasannya adalah setiap percakapan yang meluncur dari verbal para abjad yaitu kunci.
Kunci yang akan menuntun para huruf untuk mengetahui ‘kebenaran beracun’ yang telah tersembunyi selama bertahun-tahun. Kunci yang akan melepaskan topeng yang selama ini dikenakan oleh tujuh insan yang mengaku dirinya sebagai teman dan pasangan yang bisa dipercaya. Kunci yang akan membawa mereka pada keputusan penting; apakah korelasi (persahabatan dan akad nikah) penuh kepalsuan ini layak dipertahankan? Kunci yang akan mengusik pedoman penonton dengan suatu pilihan; apakah kebenaran ini perlu dibeberkan sekalipun berpotensi merusak korelasi atau lebih baik disimpan erat-dekat demi menjaga keutuhan relasi sekalipun ini berarti ada ketidakjujuran? Dan kunci yang akan menciptakan kita bertanya-tanya; apakah kemajuan teknologi ini benar-benar telah menciptakan manusia tidak lagi peduli dengan privasi?
Outstanding (4/5)



Post a Comment for "Review : Perfect Strangers (2016)"