Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : A Dog's Purpose


“I tried to make sense out of all the things I’d seen. Was there a point to this journey of life, and how did bacon fit in?” 

Banyak yang mengatakan, “anjing yaitu sahabat terbaik manusia.” Mengingat aku lebih menentukan kucing ketimbang anjing untuk dijadikan hewan peliharaan – alasannya adalah satu dan lain hal, kebenarannya tidak mampu saya verifikasi. Tapi satu yang jelas ditengok dari kacamata awam aku, film mengenai anjing utamanya kalau mengupas tuntas hubungan antara si hewan dengan majikannya, jarang sekali berakhir mengecewakan. Beberapa judul yang menjadi kesukaan secara personal, antara lain Air Bud (jilid pertama, bukan sekuel-sekuelnya), My Dog Skip, Marley & Me, serta paling sering dibicarakan oleh khalayak ramai, Hachi: A Dog’s Tale. Nah, sutradara dari judul terakhir disebut, Lasse Hallstrom, baru-gres ini melepas sebuah film anyar yang juga menempatkan anjing sebagai tokoh sentral dan didasarkan pada novel laris, A Dog’s Purpose. Sedikit membedakannya dengan beberapa film anjing yang telah disebut, ada elemen fantasi dicelupkan ke dalam A Dog’s Purpose. Kita bisa mendengar isi pikiran dari si anjing dan sosoknya pun diceritakan mampu bereinkarnasi berulang kali demi memenuhi satu tujuan hidup: membawa sang pemilik menemukan kebahagiannya. 

Merentangkan latar penceritaan dari era 1950-an sampai 2000-an, A Dog’s Purpose memperkenalkan kita kepada seekor anjing Golden Retriever bernama Bailey (disuarakan oleh si Olaf dari Frozen, Josh Gad). Persentuhan Bailey dengan dunia manusia dimulai secara resmi ketika Ethan Montgomery (K.J. Apa) menyelamatkannya dari kekurangan cairan tubuh dan memutuskan untuk memeliharanya. Tidak butuh waktu lama bagi Bailey untuk beradaptasi hidup ditengah-tengah keluarga Montgomery yang harmonis dan kepribadiannya yang periang menawarkan warna tersendiri bagi setiap anggota keluarga, khususnya Ethan. Keduanya mempunyai korelasi yang sangat akrab dan satu yang tidak dipahami oleh Bailey, manusia berubah seiring berjalannya waktu. Tiba-datang hadir Hannah (Britt Robertson) di pelukan Ethan, ayah Ethan bermetamorfosis alkoholik yang pemarah, kemudian Ethan harus meninggalkan kampung halamannya demi mengenyam bangku kuliah. Belum sempat Bailey mencerna semua kegilaan ini serta tujuan hidupnya sebagai seekor anjing, kematian menjemputnya... dan semuanya kembali dari awal dengan majikan, ras, plus dekade berbeda! 

Gagasan A Dog’s Purpose jelas menggelitik. Perihal seekor anjing yang mampu bereinkarnasi berkali-kali guna menguak makna dari eksistensinya. Terdengar sangat filosofis dan deep deep gimanaaa gitu, yah? Mempertanyakan tujuan kehidupan. Meski sepintas terkesan akan sedikit berat, Lasse Hallstrom tak lantas membebani penonton dengan lontaran obrolan-dialog yang memerlukan perenungan mendalam untuk ditemukan maknanya mengingat bagaimanapun juga, A Dog’s Purpose ialah film keluarga yang ditujukan ke banyak sekali lapisan usia. Jawaban atas pertanyaan yang diajukan Bailey pun sederhana saja seperti kata-kata penghias kartu motivasi. Terlepas dari elemen fantasinya dimana si anjing berkelana ke beberapa dekade, sejatinya acuan penceritaan A Dog’s Purpose tidak jauh berbeda dengan dog movies lainnya: dimulai oleh perjumpaan yang hangat, dilanjut ke fase persahabatan yang penuh dinamika timbul, dan ditutup oleh perpisahan merobek hati. Generik? Sebut apapun sesukamu, namun acuan yang lalu agak dibelokkan oleh si pembuat film guna mengakomodir tema reinkarnasinya ini masih tergolong efektif era diaplikasikan dalam A Dog’s Purpose

Well, tema reinkarnasinya sendiri sekalipun menarik di satu sisi, nyatanya cukup mendistraksi di sisi lain. Melompat-lompat secara cepat – kecuali segmen Ethan di awal mula, menciptakan emosi penonton tak pernah terbentuk dengan sempurna. Buyar begitu saja karena film telah mengalihkan fokusnya. Ya, majikan Bailey yang lain; polisi duda, mahasiswi jomblo, serta pasangan miskin yang abusive, memang tak diberi porsi tampil memadai. Mereka ada sekadar untuk menguatkan keyakinan Bailey mengenai tujuan hidupnya di penghujung film sehingga selain Ethan, barisan aksara-huruf di film ini berbentuk satu dimensi. Tidak pernah lebih. Pun demikian, terlepas dari ketidakseimbangan ini, A Dog’s Purpose masih bekerja seperti seharusnya sebagai sebuah dog movies. Paling tidak, A Dog’s Purpose berhasil hadirkan tawa renyah akhir melihat tingkah enerjik Bailey yang kerap memicu kejadian-kejadian konyol, berikan rasa hangat yang muncul usai menyimak korelasi dekat antara Bailey bersama majikan kesayangannya, Ethan – khususnya di paruh selesai yang sayang beribu sayang telah dibocorkan momen emasnya melalui trailer, dan pada jadinya membuatkan senyum begitu melangkahkan kaki ke luar bioskop. It’s a decent feel-good movie.

Acceptable (3/5)



Post a Comment for "Review : A Dog's Purpose"