Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : Split


“I’ve never seen a case like this before. Twenty three identities live in Kevin’s body.” 

Pernah ada masanya M. Night Shyamalan digadang-gadang sebagai sutradara terkemuka di era depan. Menapaki abad milenium, sutradara berdarah India asal Philadelphia, Amerika Serikat, ini berturut-turut menelurkan karya jempolan semacam The Sixth Sense, Unbreakable, Signs, serta The Village. Ciri khas yang gampang dikenali di barisan filmnya tersebut adalah kuatnya pembentukan karakter, bangunan atmosfer mengusik yang menghasilkan rasa tidak nyaman, serta twist ending. Ya, Shyamalan sempat pula menerima julukan “rajanya twist ending” karena kebiasaannya menawarkan pelintiran di ujung cerita dalam film-film arahannya. Belakangan karirnya mengalami kemerosotan drastis, utamanya sesudah mencoba meninggalkan ranah thriller yang dikuasainya dan mengorkestrai genre berbeda semacam The Last Airbender yang lempengnya tiada ketulungan (Ugh!) beserta After Earth yang hampa. Diprediksi tidak akan lagi bisa merengkuh doktrin khalayak ramai, tiba-tiba saja Shyamalan kembali dengan sebuah kejutan kecil yang anggun: The Visit. Menghadirkan gelaran found footage yang amat creepy (si nenek!), ternyata The Visit semacam pemanasan sebelum penebusan dosa sesungguhnya melalui Split dimana kita alhasil mampu menyampaikan, “welcome back, Shyamalan!.” 

Tiga remaja wanita; Claire (Haley Lu Richardson), Marcia (Jessica Sula), dan Casey (Anya Taylor-Joy), mendapati diri mereka terbangun di sebuah ruangan terkunci yang sama sekali gila bagi ketiganya. Masih dalam keadaan terguncang, seraya mencoba menyusun penggalan-pecahan memori yang berantakan, para gadis disambut oleh seorang pria yang menculik mereka, Dennis (James McAvoy). Tampak mirip laki-laki biasa tanpa kekuatan lebih, sempat terbersit di pikiran Claire dan Marcia untuk melumpuhkan Dennis dengan memakai kemampuan beladiri mereka yang lantas urung diwujudkan usai Casey menganggapnya sebagai ilham buruk. Benar saja, Dennis nyatanya tidaklah sesederhana kelihatannya alasannya perjumpaan para gadis dengan sang penculik di kesempatan selanjutnya mengungkap bahwa laki-laki tersebut mengidap dissociative identity disorder (DID) atau mudahnya, kepribadian ganda. Di satu waktu mereka mampu saja berjumpa Dennis yang terobsesi pada keteraturan, sementara di waktu lain mereka akan disambut Patricia yang manis atau Hedwig yang mengaku masih berusia 9 tahun. Tercatat setidaknya ada 23 kepribadian berbeda yang hidup dalam tubuh si penculik dan menurut mereka, kepribadian ke-24 berjulukan The Beast akan segera datang yang konon kabarnya merupakan kepribadian paling mengerikan diantara semuanya. 

Laju awal Split cenderung merambat. Usai adegan pembuka berintensitas cukup tinggi, Shyamalan lantas menguranginya begitu mengajak penonton menapaki ruang bawah tanah yang dimanfaatkan sang antagonis untuk menyekap ketiga perempuan belia ini. Kita diberi kesempatan menjalin keakraban bersama para korban – terutama Casey yang diberi jatah kilas balik berulang kali, demi memunculkan kepedulian atas nasib mereka, serta mengenali beberapa kepribadian mayoritas yang menghinggapi badan sang penculik. Bagi penonton yang terbiasa dengan film menakutkan penuh asupan jump scares, kesunyian dan pelannya film boleh jadi akan menguji kesabaran. Shyamalan sendiri enggan mempergunakan metode ‘cilukba’ disusul skoring musik menyayat gendang pendengaran guna memacu detak jantung penonton. Seperti halnya film-film ia terdahulu, rasa ngeri yang timbul dalam Split bersumber dari atmosfir yang sangat mengganggu dan menguarkan aroma misterius. Lorong-lorong panjang berpencahayaan redup, ruangan-ruangan sempit di bawah tanah yang akan menciptakan penonton dengan klaustrofobia blingsatan di dingklik bioskop, dan abjad villain yang tindak tanduknya sulit untuk diprediksi – gampang beralih tanpa diberi aba-aba terlebih dahulu sebelumnya. 

Dihadapkan pada perasaan tidak nyaman seperti ini, secara otomatis film telah mengondisikan penontonnya untuk senantiasa waspada jikalau-jika ada peningkatan level ketegangan mendadak seperti perlawanan dari pihak korban atau si penculik menampilkan kepribadian barunya yang lebih ganas. Jujur, sebelum Split tutup durasi, sulit untuk benar-benar menghembuskan nafas lega sekalipun ada bubuhan serbuk humor di beberapa titik guna mencairkan rasa cekam. Bahkan, sesi terapi antara Dennis yang hadir memakai kepribadian Barry, sang desainer kemayu, bersama psikolognya, Dr. Karen Fletcher (Betty Buckley), pun memiliki intensitasnya tersendiri. Momen ini memang dipergunakan Shyamalan untuk mengajak kita mempelajari karakteristik sang antagonis lebih mendalam termasuk motivasi-motivasinya yang sekaligus menghindarkannya dari sosok karikatural, namun sulit disangkal ada sensasi berdebar-debar melihat percakapan kedua belah pihak. Karen berupaya mengulik agenda yang coba disembunyikan Barry (atau bahwasanya dia yaitu Dennis?) rapat-rapat, sementara Barry yang menyadari gelagatnya mulai terbaca berusaha mengelak. Satu pertanyaan lantas mencuat, “apa yang akan terjadi berikutnya seandainya tidak ada celah lagi bagi Barry untuk berkelit dan pengakuan yakni satu-satunya jalan keluar?.” 

Ya, Split dituturkan oleh Shyamalan dengan apik. Tapi kehebatannya dalam merajut kisah tidak akan terbaca tanpa performa kelas kakap dari James McAvoy yang mampu bertansformasi secara mulus ke banyak sekali kepribadian. Berkatnya, sikap dingin, konyol, mengancam, bengis, sampai ringkih dari si penculik yang masing-masing merepresentasikan identitas tertentu mampu tersalurkan dengan baik ke penonton. Kadangkala kita mampu mengenali kepribadian yang sedang mendominasi melalui gaya berbusana, namun tidak jarang pula, peralihannya hanya bisa terdeteksi apabila kita cermat mengamati intonasi bunyi dan gestur yang diperagakan oleh McAvoy. Beruntungnya McAvoy – selain memperoleh tunjangan skrip beserta pengarahan bagus, beliau didampingi jajaran pelakon yang bermain mengesankan pula. Lupakan Haley Lu Richardson dan Jessica Sula yang tidak istimewa (menampilkan stereotip wanita terkenal anggun yang hanya mampu meratap), Split masih mempunyai Betty Buckley yang simpatik dan Anya Taylor-Joy yang tangguh sekaligus misterius di saat bersamaan. Perpaduan antara ekspo akting ciamik dengan penceritaan lancar dari si pembuat film yang juga andal menghadirkan daya cekam maksimal inilah yang membuat Split layak disejajarkan bersama barisan film-film terbaik Shyamalan. Plus, jangan lupakan adegan penutupnya yang bakal membuat para penggemar maupun penonton setia karya-karyanya berteriak kegirangan. Gokil! 

Trivia : Salah satu kebiasaan Shyamalan yakni ikut numpang tampil di film-film garapannya, termasuk Split. Nah, berperan sebagai siapakah ia di film ini?

Outstanding (4/5)

Post a Comment for "Review : Split"