Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : Kong: Skull Island


“This planet doesn't belong to us. Ancient species owned this earth long before mankind. I spent 30 years trying to prove the truth: monsters exist.” 

Baru satu dekade kemudian Peter Jackson membangunkan simpanse berukuran gigantis dari tidur panjangnya lewat King Kong (2005), Hollywood telah meluncurkan interpretasi lain atas mitologi Kong melalui Kong: Skull Island yang dinahkodai sutradara The Kings of Summer (2013), Jordan Vogt-Roberts, serta ditumpangi barisan-barisan pemain berbakat dengan beberapa diantaranya pernah memenangkan Oscars (Brie Larson) atau minimal dinominasikan (John C. Reilly dan Samuel L. Jackson). Akan tetapi, berbeda halnya dengan King Kong yang pokok penceritaannya merupakan sebentuk pembaharuan dari versi rilisan 1933, materi kulikan Kong: Skull Island tergolong sama sekali baru. 

Ini bukanlah remake, reboot, maupun sekuel dari film mengenai Kong manapun. Kemunculannya diinisiasi oleh Legendary Pictures dibawah naungan Warner Bros. yang berencana membentangkan Monsterverse secara lebih luas sehingga alih-alih terhubung ke film buatan Peter Jackson tersebut atau King Kong klasik, Kong: Skull Island justru berdiri di semesta yang sama bersama Godzilla (2014). Ya, film ini yaitu pemanasan jelang pertarungan epik antar dua monster yang direncanakan berlangsung pada tahun 2020 mendatang. 

Berlatar tahun 1973 selepas Amerika Serikat ditumbangkan Viet Cong dalam Perang Vietnam, Kong: Skull Island mengikuti satu tim ekspedisi bentukan agen pemerintah ambisius, Bill Randa (John Goodman), periode menyambangi Pulau Tengkorak yang misterius. Hanya beberapa saat seusai helikopter yang ditumpangi para anggota tim memasuki area Pulau Tengkorak, sambutan jauh dari kata hangat mereka terima dari seekor simpanse raksasa bernama Kong yang secara membabi buta berupaya meremukkan setiap helikopter. 

Kemarahan Kong sendiri bukannya tanpa dipicu alasan. Kroni-kroni dari Letkol Preston Packard (Samuel L. Jackson) telah menjatuhkan bom ke pemukiman Kong dengan dalih untuk keperluan penelitian ilmiah yang belakangan terungkap bahwa maksud mereka sejatinya yaitu memancing kemunculan makhluk-makhluk mirip Kong. Dengan bertumbangannya helikopter akhir serangan Kong, anggota tim ekspedisi yang selamat pun terpecah menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama yang dipimpin Packard menjalankan misi menemukan bawah umur buahnya yang tersisa, sementara kelompok kedua yang melibatkan tentara bayaran James Conrad (Tom Hiddleston) dan jurnalis foto Mason Weaver (Brie Larson) mendapatkan kebenaran informasi mengenai Kong seusai bertemu dengan warga lokal dalam perjalanan menuju pantai. 

Dalam menuturkan Kong: Skull Island, Jordan Vogt-Roberts menerapkan alur bergegas. Tidak membutuhkan waktu usang bagi penonton untuk berjumpa secara langsung dengan ‘sang raja’. Dimulai dari kemunculan singkat dalam prolog, Kong lantas menunjukkan wujudnya secara gamblang era menyerang tim ekspedisi untuk pertama kali yang bahkan belum sampai setengah jam film mengalunkan durasinya. Ya, Kong telah menyapa sedari mula termasuk hadir pula di beberapa kesempatan mirip dikala anak buah Packard yang hilang, Chapman (Toby Kebbell), melihat Kong membasuh dirinya di sungai yang merupakan salah satu momen membelalakkan mata dalam film. 


Bagi saya, keputusan menghadirkan sang karakter tituler di paruh awal bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi akan memompa semangat penonton hingga menggelora lantaran si pembuat film telah bermurah hati untuk menggelar sekuens pertempuran-pertempuran liar sejak film memulai langkahnya tanpa pernah juga sekalipun menutupi perawakan Kong. Namun di sisi lain, menggeber kemeriahan semenjak permulaan film berpotensi pula memperlihatkan kekecewaan apabila sekuens tabrak lanjutannya tidak seheboh sebelumnya atau dengan kata lain, kehabisan gas. Kong: Skull Island, sayangnya turut dirundung problematika kesulitan menjaga tempo supaya terus terjaga konstan hingga tutup durasi. 

Laga lanjutannya memang tidak lebih jelek, malahan pertarungan selesai Kong di 30 menit terakhir ialah definisi dari istilah “kece topan”. Hanya saja guna mencapai titik tersebut, ada kalanya perjalanan berlangsung melelahkan. Kesenangan berikut ketegangan direduksi, tergantikan oleh ketenangan. Ketika para abjad insan mengambil alih lampu sorot dari makhluk-makhluk raksasa, muncul sekelumit rasa jemu. Skrip dan karakterisasi tipis menyulitkan penonton menaruh ketertarikan terhadap para anggota tim ekspedisi, termasuk James dan Mason selaku abjad utama yang membuat eksistensi Tom Hiddleston serta Brie Larson terasa sia-sia. 

Daya pikat justru mampu dijumpai dari karakter milik John C. Reilly, Hank Marlow, yang tampaknya direncanakan sebatas sebagai comic relief pada mulanya. Berkat sosok Marlow, Kong: Skull Island tidak hingga berjalan lunglai di pertengahan film – masih ada sedikit dinamika lah. Pengaturan waktu John C. Reilly dalam melontarkan humor seringkali tepat (tidak seperti abjad lain yang seringkali meleset) dan backstory untuk karakternya menarik sekaligus menyentuh sehingga tidak heran Marlow pun menjadi satu-satunya karakter dalam film yang meninggalkan rasa tidak rela apabila sosoknya tewas. 

Untungnya Jordan Vogt-Roberts tidak membiarkan insan-manusia malang ini beristirahat usang-lama. Usai perjalanan diputuskan berlanjut – dan Packard kian berambisi menaklukkan Kong, intensitas kembali melambung. Begitu mereka menjejakkan kaki di Zona Terlarang, ketika itulah Kong: Skull Island mulai benar-benar enggan membuatmu melepaskan cengkraman dari kursi bioskop dan enggan pula mengalihkan pandangan dari layar. Sebagai penutup, an epic akhir showdown!

Post-credits scene: Ada. Bertahanlah hingga penghujung film alasannya adalah sayang sekali buat dilewatkan. 

Exceeds Expectations (3,5/5)


Post a Comment for "Review : Kong: Skull Island"