Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : Kuntilanak (2018)


“Sing kuat, sing melihara.” 

(Entah dengan kalian, tapi sebagai seorang Jawa tulen, aku bekerjsama merasa janggal dan terganggu dengan mantra ini. Kenapa sih tidak sepenuhnya dalam Bahasa Jawa? Sing kuwat sing ngingoni? Malah lebih terasa nuansa mistisnya to?)

Sineas di perfilman Indonesia pasca mati suri memang tergolong rajin menelurkan film horor. Akan tetapi, diantara ratusan judul yang telah dipertontonkan secara resmi ke hadapan publik, hanya segelintir saja yang bisa dikategorikan ‘baiklah’ sampai ‘cantik’. Kuntilanak (2006) garapan Rizal Mantovani yakni satu dari segelintir judul tersebut. Meski bagi saya secara langsung film ini lebih condong ke seru ketimbang menyeramkan, tidak mampu disangkal bahwa Kuntilanak memiliki penggarapan yang niat dengan mitologi yang cukup menarik buat dikulik. Menilik pencapaian judul tersebut di kala lampau secara kualitas maupun kuantitas (dibuktikan oleh kehadiran dua film kelanjutan yang sayangnya tak seberapa baiklah namun tetap larisss), bukan sesuatu yang mengherankan tatkala MVP Pictures mencoba untuk membangkitkannya kembali pada satu dekade lalu. Yaaa… hitung-hitung mengikuti tren ‘reborn’ yang kini tengah marak lah. Mengusung semangat gres, Kuntilanak versi 2018 yang juga digarap oleh Rizal Mantovani tak lagi mengandalkan kekuatan Mbak Samantha (Julie Estelle) untuk mengusir bagus Jeung Kunti dari dunia insan melainkan bergantung pada kenekatan segerombolan bocah. Jalinan pengisahannya pun tidak sambung-menyambung menjadi satu dengan trilogi lawas sekalipun tembang Lingsir Wengi yang bikin bulu kuduk meremang itu masih diperdendangkan dan cermin antik pembawa petaka masih menampakkan diri. 

Guliran penceritaan dalam Kuntilanak versi termutakhir ini menempatkan fokusnya kepada lima bocah yatim piatu, yakni Dinda (Sandrinna Michelle Skornicki), Kresna (Andryan Bima), Ambar (Ciara Nadine Brosnan), Panji (Adlu Fahrezy), dan Miko (Ali Fikry), yang diadopsi oleh seorang kaya bernama Tante Donna (Nena Rosier). Mulanya sih, kelima bocah ini tinggal di rumah gedongan milik Tante Donna dengan kondusif sentosa hingga kemudian si pemilik rumah pamit sejenak untuk mengunjungi keluarganya di luar negeri. Dinda dan kawan-mitra dititipkan pada keponakan si tante, Lydia (Aurelie Moeremans), yang kebetulan sedang menjalin hubungan dengan presenter program mistis, Glenn (Fero Walandouw). Bermaksud ingin memberi kejutan kepada Tante Donna, Glenn dan Lidya mengganti cermin di kamar si tante dengan sebuah cermin baru yang diangkut Glenn dari sebuah rumah angker yang disinggahinya. Tanpa diketahui oleh dua manusia ini, cermin tersebut merupakan portal menuju alam gaib yang didiami memedi berjulukan Kuntilanak. Tanpa diketahui oleh dua manusia ini pula, portal tersebut telah terbuka dan telah menelan korban. Alhasil, kecacatan demi keanehan yang sulit dijabarkan dengan logika sehat pun mulai dirasakan oleh lima sekawan beserta Lydia di rumah Tante Donna. Saat Jeung Kunti meningkatkan ‘permainan’ menjadi musibah pengancam nyawa, maka tidak ada yang mampu menghentikannya kecuali si pemilik ilham. Seseorang yang dianugerahi kelebihan untuk menyelesaikan masalah dengan makhluk-makhluk dari dimensi seberang.


Apabila kamu membawa ekspektasi “angker nih! Seru nih!” saat menetapkan untuk membeli tiket Kuntilanak di loket bioskop, maka redam segera. Level ‘angker’ maupun ‘seru’ yang dimiliki oleh Kuntilanak versi anyar ini bisa dikatakan tidak ada apa-apanya kala disandingkan dengan instalmen terdahulu. Sebetulnya, Rizal Mantovani membuka gelaran ini dengan menjanjikan saat menawarkan tinjauan dalam prolog mengenai kemampuan mirip apa yang dimiliki oleh cermin pembawa musibah. Atmosfer mencekamnya mampu terdeteksi, penceritaannya pun memiliki mampu pikat mencukupi sehingga kita mempunyai ketertarikan untuk mengetahui apa yang akan terjadi di menit-menit berikutnya. Langkah yang telah mantap ini, sayangnya tidak berlangsung usang. Sedikit demi sedikit, daya cekam beserta daya pikat film mulai menguap seiring berjalannya durasi. Hingga pada satu titik saya pun bertanya-tanya, “apakah aku sedang menyaksikan film horor dengan bintang anak-anak atau justru film petualangan anak-anak dengan bumbu horor?.” Yang aku rasakan, ini tak ubahnya film petualangan anak-anak semacam Petualangan Sherina (2000) atau Naura dan Genk Juara (2017) yang kebetulan mengambil pendekatan horor tanpa ada sekuens musikal. Elemen lawak yang dimaksudkan untuk mencairkan ketegangan tergolong melimpah ruah sampai-hingga mendistraksi elemen horornya. Bahkan, ada pula perhiasan backsound yang terasa salah tempat (dan tentu saja tidak diharapkan) setiap kali salah satu abjad mencoba untuk melucu. Alih-alih terkekeh, aku justru ingin mengeluarkan penyumbat indera pendengaran saking mengganggunya. 

Bisa dipahami bahwa pihak pembuat film ingin menghadirkan tontonan menakutkan yang ramah bagi penonton cerdik baligh. Hanya saja, keputusan untuk memilih bermain aman dengan tetap berada di area ‘cukup umur’ ketimbang mengikuti jejak sumber inspirasi Kuntilanak yakni It (2017) yang berani menjajaki teritori ‘akil balig cukup akal’ ini nyatanya bukanlah keputusan yang bijak. Kuntilanak seringkali berada di posisi serba tanggung. Memedinya terlalu menakutkan bagi penonton cerdik baligh dan usia di bawahnya, tetapi guliran penceritaan rekaan Alim Sudio (Chrisye, Ayat-Ayat Cinta 2) berikut teror si memedi terlalu menjemukan bagi penonton yang telah merasakan seramnya kehidupan yang bantu-membantu. Disamping itu, Kuntilanak pun terlalu ceria sebagai sebuah film yang memproklamirkan dirinya sebagai film horor. Satu-satunya teror yang menggoreskan sekelumit rasa takut adalah saat Dinda melihat sesosok wanita menembangkan Lingsir Wengi di depan televisi pada tengah malam. Selebihnya? Sebatas parade trik menakut-nakuti klasik yang dimunculkan secara sesuka hati tanpa set up memadai dan repetitif. Aturan main jump scare terbaca dengan terperinci; setiap aksara menerima setidaknya satu kali momen berhadapan eksklusif dengan Jeung Kunti, sementara hukum main bersama Jeung Kunti (dalam artian, mitologinya) hanya dibahas di permukaan saja tanpa pernah dieksplorasi lebih mendalam. Itulah mengapa begitu film mencapai setengah jalan, saya sudah terkantuk-kantuk tidak karuan. Salah satu alasan yang lantas membuat aku mampu bertahan menyaksikan Kuntilanak dengan penceritaan berlarut-larut ini adalah performa para pemain cilik yang asyik. Setidaknya, mereka tampak menikmati bermain di film ini.

Acceptable (2,5/5)


Post a Comment for "Review : Kuntilanak (2018)"