Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : London Love Story 2


"Siapapun itu, bagaimanapun juga, setiap orang niscaya punya kala lalu. Dan aku memilih kamu sebagai abad depanku.” 

Pada dasarnya, London Love Story hanyalah versi sedikit lebih sophisticated-nya Magic Hour (bahkan kru dan pemain pun sama!) yang untuk mencapai level sophisticated, latar diboyong jauh ke London menggantikan Jakarta. Sebetulnya tidak ada keistimewaan dari caranya bercerita, malah mampu dikata plotnya sudah lecek, sebab kisahnya masih saja berkisar soal balada asmara beberapa anak kuliahan yang sengaja dirumit-rumitkan simpulnya padahal gampang sekali buat diurai. Yang membuatnya istimewa, London Love Story menandai pertama kalinya bagi rumah produksi Screenplay Films mengirimkan perwakilan ke klub film satu juta penonton usai percobaan pertama lewat Magic Hour gagal merengkuhnya dalam margin amat tipis. Kunci keberhasilannya terperinci tidak terletak pada kualitas, melainkan kemahiran berpromosi. Film ini sukses menciptakan tren “baper bareng-bareng di bioskop” di kalangan segmen penontonnya yang menyasar cukup umur usia belasan. Rasa ingin tau digelitik (“hmmm... seromantis dan sesedih apa sih filmnya kok sampai dibilang mampu bikin baper?), begitu pula rasa gengsi (“hari gini masih belum nonton London Love Story? Helloooo!"). Alhasil, bukan masalah sulit bagi film mengumpulkan satu juta pasang mata ke bioskop. 

Kala sasaran laris cantik telah dicapai, misi berikutnya yaitu mempertahankannya atau jikalau perlu, melampauinya. Maka mirip halnya film laku lainnya, London Love Story pun mendapatkan sekuelnya dengan judul sederhana saja: London Love Story 2. Agar sesuai kaidah sekuel yang secara cakupan lebih masif, maka jajaran pemain utama ditambah (tak masalah meski cuma satu!), latar kawasan juga diperluas hingga ke negara tetangga sehingga para huruf tidak hanya kemudian-lalang di sekitaran London saja, dan konfliknya ditingkatkan level dramatisasinya demi mengundang bulir-bulir air mata. Mengadopsi formula seperti demikian, tentu saja jangan berharap Caramel (Michelle Ziudith) dan Dave (Dimas Anggara) akan bersatu dengan mudahnya di jilid ini. Oh tidak, saudara-saudara, apalagi ada kehadiran orang ketiga. Hanya menengok desain posternya saja penonton sudah bisa mengira bahwa Rizky Nazar akan menjadi penghalang bersatunya cinta Cara dengan Dave. Kamu tentu tidak terlalu naif hingga berfikir dia akan melakoni tugas sebagai, let’s say, abang kandung Cara yang telah lama menghilang, bukan? Rizky yakni Gilang, seorang koki restoran ternama di Zurich, Swiss, yang kebetulan memiliki kala lalu bersama Cara. Mereka berjumpa lagi usai Cara yang diboyong ke Swiss oleh Dave untuk berlibur, memutuskan makan malam di restoran Gilang.


Percik-percik asmara di masa lampau nyatanya belum meredup. Gilang masih menginginkan Cara, sementara jauh di dalam lubuk hatinya, Cara pun masih menyimpan rasa kepada Gilang meski menyadari betul posisinya dikala ini. Saat Dave mengetahui kebenarannya, dilema pun merunyam. Berabe. Dan penonton akil balig cukup akal pun berkemas-kemas mengeluarkan tissue untuk menyeka satu dua air mata yang mungkin jatuh kurun pertikaian antara tiga manusia manusia ini kian memanas. Berharap-harap cemas menantikan kemana hati Cara balasannya akan berlabuh, Dave atau Gilang. Penonton uzur (...atau bahasa halusnya, bukan pangsa pasar utama London Love Story 2) pun berharap-harap cemas, bakal diruwetkan mirip apalagi cerita cinta yang dialami cukup umur-cukup umur berduit lebih ini. Tapi penonton uzur boleh sedikit bernafas lega kali ini alasannya adalah London Love Story 2 tidak menjadikan migrain berkepanjangan. Masih cukup yummy lah buat disantap. Tiada lagi aksara se-annoying Adelle yang setiap kemunculannya menciptakan saya berharap Lembaga Sensor Film mulai mempertimbangkan untuk menyensor huruf menyebalkan dalam film, lagu tema tidak lagi dimunculkan sesuka hati si pembuat film tanpa memperhatikan konteks (seorang sahabat sampai berujar, “aku sampai khatam cengkok Raisa di Percayalah!”), dan obrolan puitisnya dipergunakan seperlunya saja sehingga keinginan menabok Cara mirip di film pertama pun urung dilakukan. 

Ya, secara mengejutkan, London Love Story 2 memperlihatkan sebuah peningkatan dibanding film-film produksi Screenplay Films terdahulu. Memang tidak hingga taraf signifikan yang membuat kita melamun saking sulitnya untuk mempercayai, tapi setidaknya menunjukkan kemauan dari pihak penghasil film untuk berbenah diri. Tangkapan gambarnya tertata cukup cantik alih-alih mengesankan colong-colong kesempatan (tapi tetap ada yang pecah!), penceritaannya mengalir lebih runtut, dan barisan pemain menyumbang performa terhitung baik untuk kelasnya. Maka dikala mendengar penonton sampaumur tergelak-gelak akibat humor-humornya yang kebanyakan dilontarkan oleh Ramzi (memerankan Sam, sobat Dave), penonton uzur tidak dibentuk keheranan alasannya beberapa diantaranya bekerja dengan baik sekalipun guyonan toiletnya terlalu menjijikan untuk dibilang lucu. Begitu pula saat mendengar penonton dewasa berteriak-teriak gemas “ohhh... ohhhh...” akibat kemesraan Dave dengan Cara atau Gilang dengan Cara, penonton uzur masih bisa maklum sebab harus diakui ada segelintir momen cukup manis tercipta. Dan ketika mendengar penonton cukup umur tersedu-sedu akhir mencuatnya momen dramatik di titik puncak, penonton uzur pun dapat sedikit mengerti sekalipun ini tak ubahnya pengulangan dari film pertama hingga-sampai gatal rasanya untuk menyematkan label “gadis pembawa petaka” kepada Caramel. 

Note : Loly’s, ada adegan suplemen di penghujung film. Jadi sebaiknya jangan terburu-buru beranjak dari dingklik ya.

Acceptable (3/5)


Post a Comment for "Review : London Love Story 2"