Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : Badoet


Apabila kepercayaanmu terhadap film horor buatan dalam negeri telah berada di titik nadir, maka Badoet yakni sebuah kesempatan emas bagimu untuk membangkitkan kembali kepercayaanmu dengan menunjukan bahwa sinema Indonesia sejatinya masih mempunyai keinginan untuk menghasilkan tontonan seram yang mencengkram erat. Ya, garapan terbaru dari Awi Suryadi (Claudia/Jasmine, Viva JKT48) yang menempatkan sesosok badut sebagai sumber utama berlangsungnya serangkaian teror – beberapa pihak membandingkannya dengan miniseri Stephen King’s It (1990) maupun Killer Klowns from Outer Space (1988) – ini rasa-rasanya tepat disebut sebagai film horor Indonesia terbaik dalam periode beberapa tahun terakhir. Bagi kau yang belum merasakan (nikmatnya) menjadi saksi secara pribadi tebaran teror dari Awi ini di layar lebar mungkin akan menganggapnya agak berlebihan, tapi percayalah, label ini teramat layak disandang oleh Badoet apalagi sudah cukup lama aku tidak merasakan sensasi was was seraya meringkuk tampan di dingklik bioskop dengan kedua bola mata tersembunyi di balik telapak tangan karena menyimak film memedi asal Indonesia. Phew. 

Pada mulanya, rumah susun di pinggiran Jakarta yang ditempati oleh Donald (Daniel Topan) dan sepupunya, Farel (Christoffer Nelwan), terbilang hening sentosa. Tidak ada gangguan-gangguan yang mengusik kenyamanan. Namun segala ketenangan tersebut perlahan mulai sirna saat tiga bocah tetangga Donald dan Farel menemui ajalnya secara tragis dalam rentang waktu berdekatan. Donald, Farel, dan sobat kuliah Donald, Kayla (Aurellie Moeremans), mencium adanya ketidakberesan dibalik peristiwa ini mengingat ketiga bocah tersebut berasal dari keluarga harmonis yang diperkuat dengan penemuan puluhan kertas bergambar badut misterius di barang-barang peninggalan para bocah malang ini. Diliputi rasa ingin tau, tiga serangkai ini pun menggali berita demi berita untuk memecahkan masalah yang lantas mengarahkan mereka ke kotak musik temuan Vino, putra semata wayang dari tetangga mereka Raisa (Ratu Felisha). Seiring berjalannya pemeriksaan, sederet teror dari sesosok badut terus menerus mengganggu ketiganya yang seketika menyadarkan mereka bahwa ada lebih dari sekadar kekuatan jahat yang mengintai mereka.    
Tidak seperti dominan (atau malah justru semua?) film horor Indonesia final-simpulan ini yang berkiblat pada trik “pasang musik sekencang-kencangnya, beri penampakan sesering-seringnya” untuk menggedor jantung penonton – tanpa disadari malah menurunkan kadar keseraman secara drastis – Badoet percaya terhadap ungkapan “less is more”. Alih-alih menjumpai jump scare murahan terkemas dalam bentuk badut yang memberi cilukba saban sekian menit dengan iringan musik perusak gendang indera pendengaran guna memancing rasa ngeri, kamu justru akan menemukan atmosfir serba tidak mengenakkan dalam Badoet. Awi menyodori kita selasar sepi di sebuah rumah susun dengan lantai lusuh dan tembok penuh coretan sebagai pemandangan utama, kemudian beranjak ke kamar-kamar sempit para penghuninya, lalu berpindah memasuki ruang laundry dan fotokopi yang kesunyiannya seolah memberi peringatan keras “ada yang tidak beres di sini!,” dan berakhir di pasar malam penuh misteri. Imajinasi penonton dibuat sedemikian rupa sehingga tanpa sadar dicengkram rasa takut tiap kali para tokoh memasuki lokasi-lokasi tertentu. 

Beberapa dari kamu mungkin akan bertanya-tanya, apakah bangunan atmosfir yakni satu-satunya cara yang diterapkan Badoet untuk menakut-nakuti penonton? Jawabnya, tentu saja tidak. Mengingat Badoet masih bergerak di area horor, maka kau akan tetap menjumpai penampakan diiringi musik menghentak. Hanya saja, demi memaksimalkan kesan creepy pula misterius, Awi membatasi kemunculan si badut (diperankan oleh Ronny P Tjandra) terlebih jikalau memang keberadaannya tidak membawa pengaruh signifikan terhadap pergerakan dongeng. Taktik Awi nyatanya berhasil karena sensasi ngeri senantiasa menyergap begitu si badut menampakkan diri apalagi momen penampakkannya pun digarap bervariasi dari mengakibatkan kerasukan ala The Exorcist (serius, ini sangat angker!), kemunculan secara utuh dengan senyuman menerornya, atau sekadar numpang lewat namun efektif membuat diri ini parno melihat balon maupun mesin cuci. Reaksi impulsif semacam berteriak, mengumpat-umpat, menutup mata, atau malah merapal doa pun hampir bisa kamu temukan dari penonton sekeliling ketika menontonnya di bioskop. 

Pun demikian, untuk menjangkau titik ini, kesabaran penonton sedikit banyak diuji terlebih dahulu. Setidaknya pada 20 menit pertama, Badoet seolah-oleh kebingungan menentukan ritme penceritaan yang memunculkan bercak-bercak kejenuhan karena tidak ada kejelasan mengenai jalinan pengisahannya itu sendiri dan obrolan para huruf pun lebih sering menggelikan ketimbang membantu memberi gambaran mengenai apa yang hendak dijlentrehkan oleh si pembuat film. Akan tetapi, dikala kekhawatiran Badoet mungkin tidak akan sekeren materi promosinya mulai berkecamuk, perlahan tuturan film mulai menarik untuk disimak. Terhitung sejak Vino menemukan kotak musik milik badut di pasar malam, berlanjut ke ajal tragis para bocah – serius, keberanian Awi dan tim menempatkan anak-anak sebagai korban dalam plot utama layak diacungi jempol – penceritaan bergerak gesit dengan ketegangan yang kadarnya terus menerus menanjak seiring bergulirnya durasi tanpa pernah sekalipun menurun. Perhatian penonton dibetot, kemudian keringat cuek bercucuran. Dengan kombinasi sempurna antara tuturan mengikat dan permainan atmosfir, musik, plus penampakan yang efektif, Badoet pun berhasil tersaji sebagai menu horor yang seru, mengasyikkan, sekaligus mencekam. Go watch it!

Exceeds Expectations



Post a Comment for "Review : Badoet"