Review : Salawaku
“Indahnya hidup bila tidak ada beban. Cuma ada cinta.”
Salawaku berceloteh mengenai petualangan seorang bocah yang masih duduk di kursi sekolah dasar berjulukan Salawaku (Elko Kastanya) dalam menjelajahi kepulauan Maluku demi mencari keberadaan kakaknya, Binaiya (Raihaanun), yang tiba-datang menghilang tanpa pernah sekalipun menawarkan kabar kepada Salawaku. Di tengah-tengah perjalanannya, Salawaku berjumpa dengan perempuan asal Jakarta, Saras (Karina Salim), yang terdampar di sebuah pulau kecil. Saras memberikan diri untuk membantu si bocah yang namanya terinspirasi dari perisai tradisional asal wilayah Timur ini dengan cita-cita Salawaku akan menuntunnya kembali ke resor daerah beliau menginap. Meski mula-mula ada keengganan, toh akibatnya Salawaku bersedia menerima uluran derma dari Saras. Melengkapi formasi “kelompok pencari Binaiya” adalah Kawanua (Jflow Matulessy), tetangga Salawaku yang telah dianggapnya sebagai kakak laki-laki sendiri, yang belakangan menetapkan untuk bergabung. Seperti fitrahnya sebuah road movie, perjalanan ini pun memberi perspektif gres kepada eksklusif-pribadi yang terlibat di dalamnya utamanya terhadap bagaimana mereka menyikapi permasalahan hidup.
Melalui Salawaku, Pritagita Arianegara sejatinya ingin menggugat tindak seksisme yang merebak luas di sekitar kita – dalam konteks film, di area Indonesia bagian Timur – akibat kuatnya dampak budaya patriarki. Kenapa ada citra buruk bagi wanita yang hamil tanpa ada dampingan pria berstatus suami, sementara kaum pria dianggap jantan tatkala berhasil menaklukkan hati lebih dari satu wanita? Agar tidak berkesan banyabicara apalagi menyudutkan, si pembuat film mencoba memformulasikan gugatannya ke gelaran road movie yang sepintas tampak ringan saja dengan topik utama pembicaraan mengenai “cinta”. Cinta seorang adik kepada kakaknya, cinta seorang pria terhadap kekasihnya, sampai cinta seorang ibu kepada anaknya. Dihidangkan menggunakan materi sefamiliar ini, penonton akan lebih mudah terhubung ke dalam film. Soal kritik sosialnya akan menciptakan pikiran para pemirsanya terusik atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting, khalayak ramai bersedia untuk terlebih dahulu membuka mata, hati, serta telinga demi menyaksikan upaya sang huruf utama dalam berjumpa kembali dengan keluarganya yang mendadak meninggalkannya sendirian.
Ya, sekalipun mengusung pesan yang sangat mungkin melahirkan materi diskusi panjang-panjang, Salawaku sendiri mudah dikunyah sedari awal. Yang tidak disangka-sangka, muatan komedinya terhitung tinggi. Akarnya adalah relasi tidak biasa yang terbentuk antara Salawaku dengan Saras. Berasal dari tempat berbeda yang mempunyai budaya, gaya hidup, sekaligus kebiasaan cukup aneh bagi satu sama lain, tentu tak terhindarkan kerap mencuat kontradiksi menggelitik diantara mereka disebabkan oleh ketidakpahaman. Lihat saja bagaimana Salawaku dengan santainya melempar ponsel cerdas Saras padahal posisi keduanya tengah berada di bibir pantai (ya, nyemplung dong!) atau saat Saras harus mendefinisikan sejumlah istilah yang dilontarkannya terlebih dahulu lantaran Salawaku mengalami “gagal paham” – sebuah istilah anak gaul metropolis yang belakangan digemari pula oleh Salawaku dan Kawanua. Perjalanan tiga insan guna mencari eksistensi Binaiya yang menyenangkan buat disimak berkat keputusan si pembuat film untuk melantunkannya dengan pendekatan kalem ini memperoleh pertolongan pasokan gambar membelalakkan mata pula dari Faozan Rizal yang pasti akan membuat jiwa petualangmu tergugah seketika untuk menjelajahi Pulau Seram saking mempesonanya pemandangan yang terhampar di layar bioskop.
Guliran penceritaan menarik serta tampilan gambar aduhai tentu tiada artinya tanpa sokongan akting hidup dari para pelakonnya. Beruntung bagi Salawaku, keempat bintang utamanya bermain manis. Malah bisa dikata, departemen akting merupakan sumber penghidupan utama bagi film. Baik Karina Salim, Jflow Matulessy, Raihaanun, bahkan Elko Kastanya memiliki momen yang mempersilahkan mereka untuk bersinar. Mengemban tanggung jawab besar dalam menggerakkan film, Elko Kastanya yang notabene masih hijau tak sekalipun tampak kagok. Di tangannya, sosok Salawaku yang pemberani, tidak sabaran, serta polos, terlihat natural. Dia pun sanggup menciptakan chemistry asyik bersama Karina Salim yang raut wajahnya menyiratkan adanya kegundahan dan Jflow Matulessy yang ngayomi meski membisu-membisu memiliki acara terselubung dibalik keputusannya mengikuti grup kecil ini. Sementara Raihaanun yang tidak banyak memperoleh jatah tampil dibanding ketiga rekan mainnya ini, senantiasa mencuri perhatian dalam setiap kemunculannya. Dialeknya menciptakan kita yakin bahwa dia yakni penduduk setempat, kemudian air mukanya secara berpengaruh menyatakan adanya kemarahan, kekecewaan, sekaligus kesedihan yang coba ditekan.
Exceeds Expectations (3,5/5)



Post a Comment for "Review : Salawaku"