Review : The Lego Batman Movie
“Wait a minute. Bruce Wayne is Batman... 's roommate?”
Gelap, muram, serta depresif ialah gambaran Batman yang acapkali dimunculkan dalam film-film sang Manusia Kelelawar remaja ini terutama semenjak periode Christopher Nolan. Tidak mengherankan jikalau lalu cukup banyak khalayak ramai yang menaruh anggapan bahwa film yang melibatkan superhero kepunyaan DC Comics ini memang seharusnya dilingkungi kemuraman dan nestapa, sampai-sampai usai menontonnya justru tersisa perasaan murung alih-alih senang. Ugh. Apakah sungguh teramat mustahil untuk mengkreasi sebuah film Batman yang di dalamnya dipenuhi suka cita? Warner Bros. agaknya belum berani menjawab pertanyaan tersebut lewat instalmen resmi sang superhero (mungkin masih stress berat dengan Batman & Robin? Who knows), namun mereka memiliki itikad baik untuk menjajalnya di The Lego Batman Movie – spin-off dari film animasi The Lego Movie yang gesrek itu. Mengusung semangat dari semesta filmnya yang penuh warna, meriah, serta cenderung semau-mau gue, The Lego Batman Movie memberi perspektif menyegarkan dalam menuturkan dongeng hero dari Gotham City ini: bahwa Batman pun manusia biasa yang bisa berkelakar.
Jalinan pengisahan The Lego Batman Movie bermula dari upaya Batman (Will Arnett) dalam menyelesaikan misi mencegah salah satu musuh abadinya, Joker (Zach Galifianakis), untuk meluluhlantakkan Gotham City. Dapat diterka dengan mudah, misi ini berjalan sukses mirip semestinya. Yang mungkin tidak kita antisipasi, ada drama mencuat diantara dua pihak dari kubu bersebrangan tersebut. Joker mengklaim dirinya sebagai musuh terbesar Batman, sementara sang Ksatria Kegelapan enggan mengakuinya. Mendengar balasan “tidak” meluncur dari ekspresi Batman, sakit hati pun melanda Joker. Seperti layaknya seorang psikopat yang memperoleh penolakan, Joker merancang agresi balas dendam. Memanfaatkan momen pengumuman Barbara Gordon (Rosario Dawson) menjadi komisionaris polisi gres di Gotham, aksi dieksekusi. Tidak menciptakan kegaduhan, justru mengajak musuh-musuh Batman untuk mengalah bersama seakan ingin mengetes, “bagaimana ya perasaan Batman jikalau tidak ada lagi kejahatan yang harus diatasinya?.” Batman sendiri menyadari, ini merupakan awal mula dari planning besar Joker demi menghancurkan Gotham. Dibantu oleh pelayan setianya, Alfred (Ralph Fiennes), beserta Barbara atau Batgirl dan Dick Grayson atau Robin (Michael Cera), Batman pun sekali lagi berupaya untuk menghentikan kegilaan Joker.
Pola yang diusung oleh The Lego Batman Movie sama persis dengan sesepuhnya. Kegilaan menyenangkan ditebar sebanyak mungkin, digenjot semaksimal mungkin, sedari detik pertama hingga film tutup durasi. Bahkan bersamaan dengan logo-logo studio yang mengalunnya perlahan sekali itu menampakkan wujudnya, banyolan telah dilontarkan. Banyolannya bernada usikan menyentil dan inilah yang akan kau dapatkan sepanjang film. Sasaran tembak si pembuat film beraneka macam, tidak sebatas pada semesta komik maupun film Batman itu sendiri dimulai dari abad 40-an, 60-an, 90-an, sampai 2000-an meliputi Batman v Superman yang dihujani keripik pedas Maicih itu. Film juga ikutan ngenyek superhero dari studio sebelah (ehem, Marvel!), kemudian petinggi-petinggi studio, hingga film-film gede yang mempunyai huruf jahat legendaris (you name it!). Betul, dagelan-lelucon The Lego Batman Movie banyak mengandalkan pada rujukan budaya terkenal. Apabila kamu bisa menangkap lemparan rujukan si pembuat film, bersiaplah buat tertawa berderai-derai sepanjang 104 menit. Tapi kalaupun banyak yang meleset, tidak perlu risau karena film kode Chris McKay ini masih memberikan jalinan pengisahan yang imajinatif, seru, serta segar.
Imajinatif lantaran menonton The Lego Batman Movie mirip melihat seorang bocah berimajinasi liar tengah asyik menciptakan dunianya sendiri yang mencampurbaurkan banyak elemen dalam permainan legonya, seru berkat alur cepatnya menghadirkan serentetan agresi menyenangkan selayaknya sebuah film superhero (hanya pembedanya, ini dalam format animasi), dan menyegarkan sebab penonton memperoleh kesempatan didongengi cerita kepahlawan Batman menggunakan gaya bercerita yang cenderung berbeda. Tidak lagi bermuram durja, melainkan penuh kegembiraan. The Lego Batman Movie paham betul bagaimana caranya menempatkan diri. Tahu kapan saatnya berhura-hura dengan menampilkan sang aksara tituler dalam gaya slengean, tahu kapan saatnya harus serius yang menyumbangkan momen-momen menyentuh nan menghangatkan hati pada film. Serius disini tatkala film mengulik sisi rapuh dari Bruce Wayne/Batman mirip stress berat masa kemudian yang berujung ke kesendiriannya dan keengganannya mempunyai korelasi serius, sekaligus dikala menjalankan kewajibannya sebagai film untuk segala umur dengan menyempalkan pesan-pesan bermakna mengenai pentingnya keluarga, doktrin dan kerjasama. Hasilnya, sebuah paket hiburan keluarga yang komplit.
Outstanding (4/5)



Post a Comment for "Review : The Lego Batman Movie"