Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : Sonic The Hedgehog


“This is my power and I’m not running away any more. I’m using it to protect my friends.”

Saat bahan promosi Sonic the Hedgehog ditebar pada permulaan tahun kemudian, warganet dan mereka yang memiliki keterikatan secara personal maupun profesional dengan bahan sumber dari film bersangkutan (baca: video game keluaran Sega) sepakat untuk memperlihatkan reaksi senada seirama. Meringis, mengernyitkan dahi, lalu mengajukan keluhan secara berantai. Satu poin yang menjadi landasan keberatan pihak-pihak ini ialah visualisasi si karakter utama, Sonic, yang terkesan mengkhianati penggambaran dalam versi aslinya. Upaya si pembuat film untuk memperlihatkannya serealistis mungkin bukan saja melenceng dari pakem, tetapi juga menjadikannya tampak, errr… menyeramkan. Ya, mata hamba hingga mendelik sedemikian rupa era pertama kali melihat wujudnya via trailer. Seolah-olah Paramount memiliki misi ingin membuat mimpi buruk bagi penonton cilik dengan menghadirkan tontonan ini. Seriously, it’s so creepy (!). Menuai respon negatif yang teramat sangat kencang dari banyak sekali penjuru, Sonic the Hedgehog pun diputuskan untuk diundur penayangannya dari semula di bulan November 2019 menjadi Februari 2020. Jeff Fowler selaku sutradara beserta tim memilih untuk merevisi desain si aksara tituler supaya lebih setia dengan materi sumbernya dan keputusan ini tidaklah sia-sia belaka alasannya hasil akibatnya disambut secara riang besar hati oleh para penggemar. Saya pun bersyukur tidak harus terdistraksi oleh satu imaji asing selama menyaksikan Sonic the Hedgehog yang ternyata oh ternyata bisa dengan gampang dinobatkan sebagai salah satu adaptasi video game terbaik yang pernah dibuat.

Pada awal kemunculannya dalam Sonic the Hedgehog, seekor landak berwarna biru yang mampu mengeluarkan listrik dan berlari dengan sangat cepat berjulukan Sonic (disuarakan oleh Ben Schwartz) dikisahkan mendiami sebuah pulau yang bagus nan damai. Akan tetapi, saat kekuatannya dijadikan incaran oleh kelompok tertentu, pengasuhnya pun mengirimkannya ke bumi melalui satu portal yang dibentuk dari cincin gila. Demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan, Sonic menentukan hidup secara sembunyi-sembunyi di Green Hills, Montana. Waktunya yang teramat sangat luang dimanfaatkannya untuk bermain-main menggunakan kecepatannya dan “mengintai” penduduk setempat. Salah dua warga yang menjadi kesayangannya ialah sheriff setempat, Tom (James Marsden), yang dijulukinya Raja Donat beserta istrinya, Maddie (Tika Sumpter). Kehidupan harmonis pasangan ini memunculkan rasa hangat dalam hati Sonic yang perlahan tapi pasti membuatnya tersadar bahwa dia merasa kesepian. Dia tidak mempunyai sobat untuk diajak membuatkan, ia tidak juga mempunyai keluarga. Dalam kemarahannya pada suatu malam, Sonic tanpa sengaja melepaskan energi listriknya yang memicu pemadaman massal di tempat Barat Laut. Tentu saja, pemerintah seketika turun tangan dan menitahkan ilmuwan jenius nan sinting, Dr. Robotnik (Jim Carrey), untuk mengusut tuntas insiden ini. Menyadari keberadaannya tengah terancam, Sonic lantas mengekspos dirinya di depan Tom demi mendapatkan pertolongan. Meski mulanya keberatan, Tom karenanya bersedia menemani Sonic dalam satu perjalanan menyelamatkan diri yang mendekatkan kekerabatan keduanya.


Ditinjau dari segi plot, bahu-membahu tidak ada yang keistimewaan yang menempel dalam badan Sonic the Hedgehog. Malah bisa saja disebut klise. Naskah yang disodorkan oleh Pat Casey dan Josh Miller pun beranjak dari satu premis klasik khas film keluarga berbasis fantasi dan fiksi ilmiah dimana si makhluk asing diceritakan membentuk ikatan unik dengan sahabat manusianya. Dari awalnya dirundung keraguan maupun ketakutan, keduanya lantas semakin berani untuk menentang marabahaya dan menundukkan sang villain seiring berjalannya durasi. Tidak ada yang gres, tidak ada yang unik, serta mudah sekali diterka kemana rentetan konfliknya akan bermuara. Bagi penonton yang mendamba pembaharuan, apa yang dicelotehkan oleh Sonic the Hedgehog boleh jadi hanya mengakibatkan rasa jenuh. Tapi bila kamu bersedia menerimanya karena memang sebatas memburu penghiburan (well, ekspektasi wajar periode menonton film penyesuaian video game), maka kamu akan sangat mudah dalam menikmati setiap menit dari film ini. Ya, tiada disangka-sangka, ternyata Sonic the Hedgehog bisa terhidang sebagai sajian eskapisme yang sangat mengasyikkan dan keputusan untuk mengemukakan narasi lama pun pada risikonya bisa dipahami. Bagaimanapun juga, plot lawas semacam ini masih mampu bekerja dengan baik dibawah penanganan seorang tukang bercerita yang sempurna. Jeff Fowler, spesialis efek khusus dalam debut penyutradaraan film panjangnya, rupanya mempunyai keahlian dalam hal pengaturan waktu maupun mengolah rasa. Dia tahu kapan saatnya berkelakar, beliau tahu kapan saatnya memberi hentakan, dan dia juga tahu kapan saatnya mengkreasi momen menghangatkan hati.

Itulah mengapa, elemen komedik serta dramatik dalam Sonic the Hedgehog acapkali mulus mengenai sasaran. Bukan hanya pada adegan-adegan inti yang menyoroti interaksi si abjad tituler dengan Tom yang tektokannya berlangsung secara alami, tetapi juga pada adegan kecil seperti ketika keponakan Maddie menghadiahi sepatu untuk Sonic. Hati hamba seketika terasa nyesss menyaksikannya. Hal yang sama juga berlaku pada asupan humornya yang sekalipun ada kalanya terlampau kekanakkan (tak heran, bagaimanapun juga ini film keluarga), tapi amat efektif dalam mengundang gelak tawa. Entah dari kekerabatan Sonic bersama keluarga barunya yang mencakup abang kandung Maddie yang cerewet, atau dari tingkah polah nyeleneh Dr. Robotnik yang dibawakan secara over-the-top oleh the one and only, Jim Carrey. Telah cukup usang menekuni peran-peran dalam koridor drama, sungguh membahagiakan rasanya bisa kembali melihat Pak Carrey bersenang-senang dengan tugas komedi yang menuntutnya untuk berimprovisasi sekaligus tampil seekspresif mungkin. Masih ingat dengan karakternya di Ace Ventura: Pet Detective (1994) atau Liar Liar (1997)? Seperti itulah Carrey yang kalian lihat di sini. Usai beristirahat panjang, kecakapannya dalam ngelaba terbukti tidak meluntur yang tentu saja membantunya untuk menghidupkan Dr. Robotnik. Di tangan pelakon yang salah menginterpretasi, huruf ini akan membuatmu berharap ia tidak pernah ada di film ini. Namun dikala dimainkan oleh Carrey, terbentuk impian untuk senantiasa menyaksikan aksi gilanya yang tak pernah gagal dalam mengundang gelak tawa karena terus dimodifikasi di setiap kemunculannya.


Disandingkan dengan Carrey ialah James Marsden dan Ben Schwartz yang tak kalah mencuri perhatiannya serta sama-sama tampak menikmati peran masing-masing. Marsden bermain nyaman nan lepas sebagai Tom yang “dipinjam” oleh Sonic untuk melakoni satu perjalanan darat yang membawa perubahan, sedangkan Schwartz memberi derma bunyi yang penuh energi bagi Sonic. Adanya chemistry dalam rangkaian adu obrolan menciptakan penonton mampu menyematkan simpati kepada keduanya. Terlebih, keduanya punya pergolakannya sendiri-sendiri yang mampu jadi akan relate dengan banyak penonton: Sonic mendamba keluarga yang peduli kepadanya dan Tom ingin dirinya mampu mendatangkan manfaat bagi orang lain. Tak ayal, saya pun ingin menyaksikan mereka menyelesaikan misi dengan sukses, lalu melihat mereka bersatu sebagai keluarga. Munculnya kepedulian kepada abjad-abjad inti (bahkan kepada Maddie yang punya bantuan dalam penceritaan) inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa mudah bagi diri ini untuk menyukai Sonic the Hedgehog. Tentu disamping banyaknya gelak tawa, visualisasi Sonic yang memuaskan, serta tersajinya gelaran adu seru mirip dikala Robotnik meluncurkan serangan “Russian doll” yang merupakan salah satu momen terbaik dalam film.

Note : Ada adegan pelengkap di sela-sela end credit yang teramat sayang buat dilewatkan khususnya bagi penggemar berat Sonic. Jadi jangan buru-buru keluar ya!

Exceeds Expectations (3,5/5)



   

Post a Comment for "Review : Sonic The Hedgehog"