Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : A Silent Voice


Didasarkan pada manga bergenre slice of life berbumbu romansa rekaan Yoshitoki Oima, A Silent Voice (Koe no Katachi) menjual dirinya sebagai film romansa untuk segmen young adult. Yang terbersit pertama di pikiran, film ini mungkin akan semanis dan semengharu biru Your Name yang telah berkontribusi dalam menetapkan standar tinggi bagi film anime asal Jepang. Mengingat materi promosinya memunculkan kesan demikian, tentu ekspektasi khalayak ramai tersebut tidak mampu disalahkan. Satu hal perlu diluruskan, A Silent Voice gubahan sutradara wanita Naoko Yamada (K-On!) ini tidak semata-mata mengedepankan cerita kasih sepasang sampaumur sebagai jualan utamanya. Malahan bergotong-royong, percintaan bukanlah materi pokok buat dikulik. Topik pembahasan yang dikedepankan oleh A Silent Voice justru terbilang sensitif meliputi perundungan, kecemasan sosial, sampai bunuh diri berlatar dunia sekolah. Ya, ketimbang Your Name, A Silent Voice justru lebih akrab dengan film rilisan tahun 2010, Colorful, yang mengapungkan bahan kurang lebih senada hanya saja tanpa mencelupkan elemen fantasi dan lebih realistis dalam bertutur. 

Karakter inti dari film adalah sampaumur laki-laki usia belasan berjulukan Shoya Ishida (Miyu Irino). Semasa duduk di dingklik sekolah dasar, Ishida mempraktikkan tindak bullying terhadap seorang murid gres yang tuli, Shoko Nishimiya (Saori Hayami). Meski ditindas setiap hari, Nishimiya enggan melawan dan justru kerap melempar senyuman seraya mengucap “maaf”. Mengetahui sang korban tidak menawarkan respon keras, Ishida dan kawan-kawannya justru makin getol menindas Nishimiya sampai kemudian tindakan mereka melampaui batas dan ibu Nishimiya pun menetapkan memindahkan putrinya ke sekolah lain. Semenjak kepergian Nishimiya, keadaan berbalik arah ditandai dengan status Ishida yang mengalami degradasi: dari penindas menjadi yang tertindas. Merasakan sebagai korban perundungan, Ishida menyesali perbuatannya dan menentukan menjadi outsider di jenjang sekolah berikutnya. Kehidupan Ishida yang akrab dengan ‘kesepian’ serta ‘penyesalan’ perlahan mulai berubah tatkala menapaki kursi SMA. Takdir mempertemukannya kembali bersama Nishimiya. Ishida menyadari bahwa perjumpaannya dengan Nishimiya merupakan kesempatan terbaik baginya untuk berdamai dengan masa kemudian yang selama ini terus menghantui.


Sejalan dengan materi kupasannya, A Silent Voice pun berceloteh secara serius. Bisa dikata, mendekati depresif. Bukan masalah gampang menengok Nishimiya menghadapi perundungan di sekolahnya tanpa ada seorang mitra pun yang berpihak kepadanya – meski belakangan dia memiliki mitra baik bernama Miyoko Sahara (Yui Ishikawa) yang bersedia mempelajari bahasa arahan. Ketika Nishimiya menghilang, kemudian target berpindah ke Ishida, nada penceritaan pun kian muram. Akibat gangguan yang diterimanya, Ishida menentukan jalur antisosial. Mengikuti bahan sumbernya, si pembuat film pun menempelkan sebentuk silang besar menyerupai karakter X di wajah sobat-sobat sekolah Ishida yang mengisyaratkan adanya ketidakpercayaan atau keengganan si aksara utama berinteraksi lebih intensif dengan mereka. Kemuraman lantas sedikit mencair menyusul kemunculan Tomohiro Nagatsuka (Kensho Ono) yang memproklamirkan dirinya sebagai sahabat Ishida usai diberi pertolongan. Nagatsuka memegang dua peranan penting dalam film; pertama, memberi asupan humor, dan kedua, mendorong Ishida untuk bersosialisasi serta membuka diri pada jalinan pertemanan yang selama ini dipandangnya sinis. Sampai pada titik ini, meski mood kerap diombang-ambingkan, film sejatinya masih yummy untuk dikudap. 

Persoalan-masalah pada film mulai mencuat ketika sejumlah karakter baru mulai hilir pulang kampung memasuki arena penceritaan seiring kian terbukanya Ishida. Disamping Ishida, abjad-karakter lain di A Silent Voice tak pernah memperoleh jatah waktu memadai untuk memperkenalkan diri. Penonton hanya mengenal Sahara, Nagatsuka, lalu ada pula Kawai (Megumi Han), Yuzuru (Aoi Yuki), Mashiba (Toshiyuki Toyonaga), serta Ueno (Yuki Kaneko) sambil kemudian. Bahkan, Nishimiya pun sejatinya memperoleh perlakuan serupa. Tokoh-tokoh ini dikonstruksi dalam satu dimensi saja yang membuatnya berasa hampa. Sosok Nishimiya kelewat putih higienis, sementara Ueno berada di sisi seberangnya dalam tingkatan ekstrim pula. Lantaran tidak bisa terhubung kepada barisan karakter ini, rentetan konflik yang menyertainya pun sukar menjerat dan durasi yang merentang hingga 129 menit hanya menjadikannya kian melelahkan. Yang lantas menghindarkan A Silent Voice untuk bergabung dengan ‘film mudah terlupakan’ yakni pesan penting usungannya yang masih sanggup tersampaikan secara baik dan epilog anggun nan hangatnya yang paling tidak mampu sedikit mengobati rasa lelah balasan tuturan berlarut-larut kurang mengikatnya.

Acceptable (3/5)


Post a Comment for "Review : A Silent Voice"