Review : Rings
“7:10. I win, bitch.”
Agaknya, hantu wanita berambut hitam panjang bernama Sadako (atau Samara untuk nama bulenya) masih belum diperkenankan oleh para petinggi-petinggi studio film yang serakah untuk beristirahat dengan tenang di dalam sumur. Usai Jepang membangkitkannya kembali tahun lalu lewat film bermetode crossover dimana Sadako ditandingkan melawan memedi ikonik lainnya, Kayako, dalam Sadako vs Kayako yang level menghiburnya plus absurditasnya jauh melampaui pertarungan dua superhero resah, sekarang giliran Hollywood menjajal peruntungannya lewat Rings. Tidak jelas mengambil pendekatan sekuel atau reboot, Rings merupakan instalmen ketiga usai The Ring (2002) yang tidak dinyana-nyana seseram versi aslinya dan The Ring Two (2005) yang lempeng tapi masih bolehlah dalam urusan membuat atmosfer creepy. Barisan pemain Rings sama sekali gres – tidak melibatkan pelakon seri-seri sebelumnya termasuk Naomi Watts – begitu pula sang nahkoda kapal, F. Javier Gutierrez, yang gres sekali ini menangani film panjang untuk penayangan bioskop. Benang merah tersisa yang menautkan Rings dengan dua film terdahulu yaitu kehadiran Samara beserta video kutukan kreasinya.
Berselang tiga belas tahun usai kejadian di film pertama, video kutukan garapan Samara Morgan (Bonnie Morgan) ternyata masih belum berhenti memakan korban. Yang terbaru ialah Holt Anthony (Alex Roe), mahasiswa anyar yang apes terkena kutukan “nonton video absurd, telepon berdering, kemudian sepekan lalu mati” usai mengikuti penelitian perihal hal-hal gaib dari dosennya, Gabriel Brown (Johnny Galecki). Gabriel tertarik meneliti video Mbak Samara sesudah dirinya tanpa sengaja terpapar kutukan gara-gara menonton video tersebut via VCR bekas yang dibelinya di toko loak. Nah, Gabriel lantas mendapatkan solusi semoga para korban tidak ditemui Samara pada hari ketujuh ialah dengan meminta anggota penelitiannya menonton video kutukan ini, kemudian menduplikatnya, dan meminta orang lain untuk menontonnya sebelum kala jatuh tempo datang. Tapi rupa-rupanya mencari korban gres tidak semudah itu, terbukti salah satu anggota risikonya tewas di tangan Samara. Untunglah Holt mempunyai kekasih luar biasa pengertian, Julia (Matilda Lutz), yang bersedia mengorbankan dirinya secara sukarela untuk menyelamatkan Holt. Mungkin sebab Neng Julia menyadari bahwa dia ialah the chosen one yang bakal selamat hingga penghujung film apapun yang terjadi, kali ya?
Langkah Paramount untuk merevisi jadwal edar Rings sebanyak empat kali sebenarnya telah menguarkan wangi anyir. Dari awalnya bersemangat ingin menyambut kedatangan Samara, perlahan tapi niscaya semangat ikut tergerus seiring semakin seringnya Rings berganti tanggal rilis. Jika tidak ada sesuatu yang salah, tentu tidak mungkin krisis akidah diri menyerang berulang ulang. Bukankah demikian? Dan betul saja, Rings memberikan siksaan yang meninggalkan rasa galau dan jemu tak terperi masa menyimaknya. Tanda-tanda bahwa film tidak akan berlangsung semestinya sudah terpampang jelas sejak prolog nggak nyambungnya. Maunya sih memberi kesan awal gahar dengan menempatkan teror di dalam pesawat yang tengah terjebak angin kencang. Namun mempersilahkan Samara mengobrak-abrik sistem pesawat sehingga mengalami malfungsi dan pada kesannya menimbulkan kecelakaan yang meminta tumbal ratusan nyawa penyumpang sementara korban incarannya hanyalah dua... sungguh tidak berkeprimanusiaan. Keji. Belum apa-apa, si pembuat film sudah lancang mengkhianati mitologi yang telah dibentuk susah payah sang kreator, Koji Suzuki. Parahnya lagi, adegan ini pun tidak mempunyai signifikansi ke jalinan dongeng film keseluruhan (kecuali buat gaya-gayaan yang malah bikin ngakak!) sebab ternyata ada prolog lainnya sebelum film resmi dimulai. Duh, dek.
Berjalan menit demi menit, Rings tidak kunjung membaik malah justru kian meracau. Memiliki dua huruf utama tak mengundang simpati yang hobinya berasyik masyuk di atas ranjang, sulit untuk mampu menaruh kepedulian terhadap nasib mereka terlebih lagi akting masing-masing sama sekali tidak membantu. Sekaku kayu. Padahal, keterikatan dengan karakter merupakan salah satu kekuatan jilid-jilid awal disamping guliran kisah menarik perhatian dan kecakapan membangun kengerian. Tidak bisa dibutuhkan dari sisi karakterisasi tokoh beserta lakonan pemain, Rings pun tidak mampu diharapkan dari caranya menampilkan teror. Memanfaatkan klakson truk atau gonggongan anjing untuk membuat daya kejut pada penonton, sekalipun teramat sangat klise, masih mampu diterima. Tapi bunyi payung dibuka? Iya, kau tidak salah baca, payung dibuka! Ya Allah, Tuhan YME, ini sih menggelikan dan memprihatinkan. Apakah Gutierrez betul-betul sudah kehabisan trik menakut-nakuti sampai harus mendayagunakan jump scares sekacrut itu? Bahkan Sadako vs Kayako yang dari awal mula bertujuan buat ngelawak saja masih memiliki satu dua momen yang bikin merinding. Lha Rings, bagian paling mengerikan dari film ini yakni tiap kali melihat verbal pemainnya atau mendengar mereka mengucapkan obrolan. Samara yang aib-malu kucing disini pun kalah mengerikan!
Mencoret “akting” dan “teror” dari daftar, tersisa “jalinan penceritaan”. Sejujurnya, usai elemen lain tidak bekerja, sudah tiada pengharapan lagi yang tersisa. Bisakah naskah diandalkan sementara sedari awal mitologi yang berkembang di semesta Ring sudah dikoyak sedemikian rupa? Berharap Rings mempunyai pengisahan apik sama halnya mengharapkan cinta dari seseorang yang bahkan tidak mengetahui keberadaanmu. Mus-ta-hil. Saya sendiri gundah terhadap bagaimana film ini menempatkan dirinya, reboot atau sekuel. Jika reboot, Rings kurang memberi paparan detil mengenai video kutukan Samara – menyinggung soal si hantu perempuan ini saja jarang – yang berdampak terciptanya kebingungan bagi penonton gres. Dan bila sekuel, lebih parah lagi. Menciptakan cerita asal mula baru bagi Samara dan sang ibunda, berarti beliau menganggap dua film sebelumnya tidak pernah ada, dong? Juga membuat bertanya-tanya yaitu metode pembunuhan yang diterapkan Samara di Rings. Coba ingatkan saya lagi. Bukankah si demit hanya perlu memberi tatapan cantik andalannya dan si korban pribadi tewas seketika? Kalau betul demikian, mengapa beliau harus susah-susah menerjunbebaskan pesawat serta merobohkan tiang listrik hanya untuk membunuh satu dua orang? Rempong bener, bu.
Dan saya juga masih belum habis pikir, kenapa para korban tidak mengembangkan video kutukan lewat media umum saja, ya? Kan lebih mudah, to? Atau jangan-jangan mereka tidak ingin membebani Mbak Samara yang pastinya akan sangat sibuk di hari ketujuh? Pada suka ngerepotin diri sendiri deh! Dengan lebih banyaknya pertanyaan yang tertinggal sekaligus rasa geli dan bosan lantaran formasi terornya amat basi ketimbang rasa tercekam, Rings adalah sebuah aib bagi franchise The Ring. Tonton film ini hanya jika kau memang sangat menggilai franchise ini atau sedang memiliki uang serta waktu berlebih dan kebingungan hendak menghabiskannya buat apa. Kalau tidak, jangan coba-coba mendekatinya.
Poor (2/5)



Post a Comment for "Review : Rings"