Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : Resident Evil: The Final Chapter


We’re finally here, instalmen terakhir dari franchise Resident Evil yang didasarkan pada video game laris berjudul sama rekaan Capcom... atau setidaknya begitulah sangkaan kita. Usai dua jilid pendahulu, Afterlife dan Retribution, yang benar-benar melempem, bahu-membahu pengharapan terhadap franchise ini telah sepenuhnya sirna. Kejar-kejaran antara sang protagonis, Alice (Milla Jovovich), dengan para zombie ganas yang didalangi oleh Umbrella Corporation telah sampai pada titik jenuh sehingga ketidakpedulian pada nasib Alice pun tak terelakkan. Maka begitu mendengar gagasan Paul W.S. Anderson berniat untuk mengkreasi seri lanjutan Resident Evil dan sekali ini memakai subjudul The Final Chapter yang besar kemungkinan berarti jilid penghujung, ada kelegaan disertai sekelumit kepenasaran terkait bagaimana Anderson akan menutup salah satu film pembiasaan game tersukses di muka bumi ini. Membawa turut serta segala perilaku skeptis ke gedung bioskop kurun menyimak Resident Evil: The Final Chapter, alangkah terkejutnya diri ini begitu mendapati bahwa film ini memberikan peningkatan cukup signifikan dari dua instalmen sebelumnya. Whoa? 

Berselang tiga pekan selepas peristiwa di penghujung Retribution, Alice melanjutkan pengembaraannya seorang diri. Pasca diserang oleh monster-monster beringas, hero kita ini memperoleh pesan mengejutkan dari Red Queen yang mendadak memberikan itikad baik. Dalam pesan tersebut, Red Queen menginformasikan bahwa Umbrella berencana melepas virus guna memberangus secara total peradaban insan dan Alice adalah satu-satunya harapan untuk menghentikannya. Berpacu dengan waktu serta tidak mempunyai banyak pilihan, Alice pun seketika bertolak ke tempat semua kekacauan ini bermula, Raccoon City. Membopong misi besar, tentu perjalanan Alice tidak serta mudah karena salah satu pemegang saham tertinggi di Umbrella yang juga musuh bebuyutannya, Dr. Alexander Isaacs (Iain Glen), dan Albert Wesker (Shawn Roberts) yang telah mengkhianatinya, berupaya untuk menghalau langkah Alice. Untung di tengah perjuangannya menembus laboratorium bawah tanah Umbrella, Hive, Alice berjumpa lagi dengan rekan seperjuangannya, Claire Redfield (Ali Larter), dan sekutu-sekutu gres Claire yang bersedia pundak membahu memberikan pemberian melawan korporasi lalim Umbrella usai mengetahui planning terkutuk mereka. 

Ya, The Final Chapter ialah sebuah kemajuan bila disandingkan dengan Afterlife dan Retribution yang seringkali mendatangkan kebosanan. Bagi penonton yang telah antipati ke franchise ini sedari mula atau memang tak pernah memberikan ketertarikan lebih, informasi manis tersebut tidak berarti apapun. Tapi jikalau berinvestasi secara penuh entah karena faktor penggemar berat versi video game-nya maupun semata-mata kepincut dengan tiga jild awal yang harus diakui amat seru, terperinci sebuah berkah. Paling tidak, Resident Evil berakhir – bila memang demikian adanya – mencapai konklusinya dengan kepala menengadah ke atas. Letak keberhasilan The Final Chapter ialah bagaimana Paul W.S. Anderson memanfaatkan bujet $40 jutanya secara maksimal dengan menciptakan setiap momen yang senantiasa berdentum keras. Lagipula, apa lagi sih motivasi penonton menyimak franchise ini di layar lebar selain mencari tontonan eskapisme yang berarti sarat adegan adu dan nuansa cekam? Instalmen keenam ini mencoba memenuhi itu. Berupaya kembali ke akarnya mirip jilid pertama dan kedua. Dipenuhi atraksi Mbak Alice melompat-lompat kesana kemari membantai para zombie yang senantiasa mengintai serta kelaparan. 

Sang sutradara menggeber serentetan adu yang mencakup pertarungan Alice dengan monster-monster ganas, berhadapan dengan antek-antek Umbrella termasuk musuh lamanya Dr. Alexander Isaacs di atas Hummer berjalan yang di sekelilingnya dikerumuni zombie, menyusup ke Hive yang menyimpan jebakan-jebakan akhir hayat tak terduga (ucapkan halo pada sinar laser dari film pertama!), hingga konfrontasi tamat yang menghadirkan pelintiran cukup mengejutkan dalam plot, nyaris tanpa putus. Satu kehebohan tamat pribadi disambung kehebohan lain, terus menerus seperti itu hingga tutup durasi. Tidak memberi ruang bagi Alice untuk sekadar ngopi-ngopi anggun bersama Claire seraya bernostalgia. Menariknya, ada intensitas yang mampu dirasakan dalam setiap pertempuran yang dijabani oleh Alice sehingga menyulitkan rasa jenuh menyambangi penonton. Penggunaan jump scares untuk menyebabkan daya kejutnya memang agak berlebihan, begitu pula dengan kamera bergoncangnya dan penyuntingan bermetode quick cut-nya, tapi ketika Milla Jovovich terlihat kembali bersemangat menghidupkan sosok Alice lalu mencuat pula sejumlah momen seru nan mencekam utamanya sehabis pasukan Alice menyelinap ke Hive, titik lemah pun mampu diabaikan. Toh yang penting sebagai sebuah popcorn movie yang mengasyikkan ditonton beramai-ramai bersama sahabat, Resident Evil: The Final Chapter telah mencapai tujuannya, kan?

Noted : ada bonus di penghujung film yang penting-penting nggak penting. Jika kau penggemar berat, kebetulan sedang tidak tergesa-gesa, dan bersedia menunggu hingga akhir, silahkan disimak. 

Exceeds Expectations (3,5/5)

Post a Comment for "Review : Resident Evil: The Final Chapter"