Review : Raees
“No business is small and no religion is bigger than business.”
Citra seorang Shah Rukh Khan (atau sebut saja SRK supaya tidak kepanjangan) dalam karir keaktorannya memang tidaklah lekat dengan peran antagonis. Dia seringkali memerankan sosok jagoan yang memiliki karisma tinggi, bertampang rupawan, serta berselera humor bagus, meski kenyataannya awal karir SRK dibentuk dari peran-peran jahat mirip ditunjukannya melalui Baazigar (1993), Darr (1993), dan Anjaam (1994). Seiring membumbungnya karir SRK ke angkasa – diikuti upayanya merebut hati lebih banyak penggemar, dia mulai menjauhi peran beraromakan negatif sekalipun tidak sepenuhnya dihempaskan olehnya. Tercatat, SRK sempat kembali menyelami abjad antagonis lewat Duplicate (1998), Don (2006), serta Fan (2016), yang uniknya dalam ketiga film tersebut, dia memainkan tugas ganda dengan salah satunya berada di sisi berlawanan. Raees, garapan Rahul Dholakia, adalah percobaan terbaru SRK dalam melakonkan huruf antihero dimana ia berperan sebagai bandar minuman keras kelas kakap yang sulit dijamah hukum. Seperti halnya tiga judul terakhir yang disebut, SRK pun tidak seutuhnya jahat karena karakter tituler yang dihidupkannya cenderung digambarkan abu-bubuk mengikuti tindak tanduk ala Robin Hood. Hasil laba dari tindak kriminalnya dimanfaatkan untuk membantu hajat hidup masyarakat di lingkungannya.
Raees – merujuk pada nama tokoh utama di film, tumbuh di pemukiman kumuh Gujarat yang merupakan markas bisnis minuman keras. Didorong oleh keinginannya meringankan beban finansial sang ibu, Raees nekat terjun ke bisnis ilegal ini bersama sobat baiknya, Sadiq (Mohammed Zeeshan Ayyub), dengan mengabdikan diri mereka pada Jairaj (Atul Kulkarni). Dideskripsikan sebagai sosok yang “licin kolam pedagang, pemberani bak pejuang”, tidak mengherankan Raees cepat mempelajari seluk beluk dunia ini sehingga hanya tinggal menunggu waktu baginya untuk mengucapkan salam perpisahan kepada Jairaj dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Usai dipersulit oleh Jairaj yang setengah hati memberikan santunan, Raees menerima suntikan dana dari seorang cecunguk berjulukan Musabhai (Narendra Jha) yang mengagumi keberanian serta kegigihan Raees. Menggunakan pengalamannya selama bertahun-tahun bekerja dibawah naungan Jairaj untuk menjalankan usaha, perlahan tapi niscaya bisnis Raees kian menggurita bahkan melampaui pencapaian mantan atasannya. Menjamurnya pasokan minuman keras ilegal lantas tercium oleh petugas kepolisian idealis, Majmudar (Nawazuddin Siddiqui), yang seketika menyusun seni manajemen untuk membubarkan kerajaan bisnis Raees dan membuatnya bertekuk lutut.
Dari sinopsis telah terbaca, Raees tidak menunjukkan sesuatu gres kepada para penontonnya. Dan memang, Rahul Dholakia mengemasnya seperti tontonan Masala khas Bollywood generasi lawas dengan memadukan tiga unsur sekaligus; laga, komedi, dan romansa. Tontonan enteng saja yang tidak meminta penonton untuk memaksimalkan kinerja otak demi mencerna isi film. Si pembuat film berharap kita bersiul-siul kegirangan melihat sang tokoh utama menghajar musuh-musuhnya sampai babak belur, disusul beromantis ria bersama pasangannya, Aasiya (Mahira Khan), dan tertawa terbahak-bahak mendengar celetukan-celetukan konyol dari barisan karakternya. Misi ini boleh dikata berhasil dituntaskan secara mulus. Sekalipun lagu-lagu pengiringnya tidak cukup melodius untuk ikut didendangkan oleh penonton, Raees masih mempunyai amunisi tinggi dalam menjerat perhatian penontonnya lewat gelaran kolam bik buk yang tertata amat mengesankan dan performa kelas kampiun dari SRK beserta Nawazuddin Siddiqui. Inilah penampilan terbaik SRK semenjak My Name is Khan yang rilis 7 tahun silam. Di tangannya, sosok Raees menjelma sebagai sosok berwibawa dan mengerikan yang mampu membunuhmu hanya bermodalkan kacamata di satu sisi, serta rapuh layaknya manusia normal dan simpatik mengikuti ketulusannya dalam memberi derma pada wong cilik di sisi yang lain. Tanpa tersadar, kita telah dibuat jatuh hati kepada karakternya kemudian secara suka rela memafhumi setiap tindak tanduknya.
Difungsikan sebagai antitesis dari SRK, Nawazuddin Siddiqui menghadirkan akting tak kalah mengesankannya. Malah, dia mencuri perhatian di setiap kemunculannya dengan tingkah nyelenehnya yang mengundang tawa dan ambisi besarnya untuk meringkus Raees yang agak menyebalkan. Saling bersinergi satu sama lain, adegan-adegan yang menampilkan SRK dan Nawazuddin dalam satu frame merupakan kumpulan momen terbaik dari film. Tatapan keduanya mengisyaratkan kehormatan, kepedulian, serta kebencian sekaligus – menghadirkan kekerabatan benci tapi rindu. Mereka memimpin departemen akting yang setiap barisan pemainnya suguhkan lakon pas sesuai takarannya seperti Mahira Khan, Mohammed Zeeshan Ayyub, sampai Narendra Jha. Apiknya atraksi akting dari para pemain ini sedikit banyak mengampuni paruh akhir yang serasa bertele-tele karena ingin membicarakan beragam topik termasuk mengkritisi politisi-politisi korup yang munafik dan maraknya praktik pemanfaatan agama sebagai barang dagangan. Materinya harus diakui memikat, hanya saja keputusan untuk seketika menumpuknya selepas Intermission tanpa diberikan set up memadai menciptakan film serasa penuh sesak dan mengurangi kadar keasyikkan dalam menikmati jualan utama film: permainan kucing tikus antara Raees dengan Majmudar. Walau sempat goyah beberapa kali, untungnya daya cengkram Raees bisa betul-betul pulih di saat diperlukan keberadaannya, yakni menjelang konfrontasi akhir yang berlangsung mendebarkan.
Exceeds Expectations (3,5/5)



Post a Comment for "Review : Raees"