Review : Pirates Of The Caribbean: Salazar's Revenge
“The dead have taken command of the sea. They're searching for a girl, a Pearl, and a Sparrow.”
Ladies and gentleman, Jack Sparrow is back...!!! Setelah dibiarkan berhibernasi selama 6 tahun, salah satu franchise paling menguntungkan bagi Walt Disney, Pirates of the Caribbean, balasannya dibangunkan dari tidur panjangnya. Mengingat raupan dollar dari franchise ini terbilang stabil, bahkan cenderung meningkat – instalmen keempat bertajuk On Stranger Tides mampu menembus angka keramat $1 miliar dari peredaran seluruh dunia! – tentu tidak mengherankan jika pihak studio kekeuh memintanya berlayar sekalipun tiada lagi area tersisa untuk dijelajahi yang pada kesudahannya mengakibatkan tuturan terus berputar-putar di satu daerah. Repetitif. Memasuki jilid kelima yang diberi tajuk Salazar’s Revenge (atau Dead Men Tell No Tales di negara asalnya), tanya “apa lagi yang hendak dikedepankan sekali ini?” tentu tidak mampu terhindarkan. Agaknya mencar ilmu dari kesalahan On Stranger Tides yang kekurangan tenaga, duo sutradara Joachim Rønning dan Espen Sandberg (Kon Tiki) mencoba mengusung lagi semangat dari trilogi awal yang sempat pupus seraya merekrut kembali karakter kunci dari franchise ini; Will Turner (Orlando Bloom) beserta Elizabeth Swann (Keira Knightley), dengan harapan mampu mencegah franchise Pirates of the Caribbean ditenggelamkan oleh kritikus maupun penonton.
Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge memperkenalkan kita pada Henry Turner (Brenton Thwaites), putra dari Will dan Elizabeth yang sekarang telah tumbuh menjadi pria akil balig cukup akal. Henry mempunyai satu misi besar dalam hidupnya, yaitu membebaskan sang ayah dari kutukan yang mengikatnya bersama kapal Flying Dutchman. Dalam petualangannya untuk menemukan pusaka sakti, Trisula Poseidon, yang konon mampu memberi kekuatan kepada siapapun yang memilikinya termasuk mematahkan kutukan, Henry bertemu dengan seorang wanita yang dituduh sebagai penyihir karena memiliki pengetahuan diatas rata-rata, Carina Smith (Kaya Scodelario), serta mitra lama sang ayah, Jack Sparrow (Johnny Depp). Perjumpaan Henry dengan Jack sendiri bukannya tanpa disengaja. Tatkala kapal armada Inggris yang dinaikinya kandas di kawasan Segitiga Iblis, Henry mendapat pesan dari Kapten Salazar (Javier Bardem) yang menyatakan niatnya untuk membalas dendam kepada Jack atas insiden di masa lalu. Mengetahui keselamatannya terancam, Jack pun ikut berpartisipasi mengarungi perairan dalam pencarian Trisula Poseidon bersama Henry dan Carina yang menginginkan benda tersebut agar mampu mengetahui eksistensi sang ayah yang selama ini menjadi misteri baginya.
Apabila disandingkan dengan On Stranger Tides, Salazar’s Revenge bisa dikata jauh lebih menghibur dan bisa dinikmati – walau ini juga tidak berarti banyak. Gegap gempita telah mampu diraba semenjak menit-menit awal yang membawa penonton pada rentetan kejadian seru pula lucu; dimulai dari pertemuan Henry dengan Salazar di Segitiga Iblis yang menguarkan nuansa mencekam, kemudian berlanjut penyeretan bank (iya, BANK!) ala Fast Five oleh anak buah Jack yang membuat kekacauan besar, hingga guillotine berputar yang terus menerus ‘maju mundur anggun’ masa hendak memenggal kepala Jack. Hingga momen eksekusi Jack dan Carina di alun-alun yang justru berakhir musibah bagi para eksekutor, Salazar’s Revenge masih berasa renyah buat dikudap. Keriuhan semacam ini memang diidam-idamkan penonton pada film bercap ‘summer blockbuster’ sehingga tiada mengherankan derai-derai tawa penonton terdengar menggema dari banyak sekali titik di dalam bioskop. Namun segala bentuk kesenangan yang menghiasi babak perkenalan bersama beberapa huruf anyar ini bertahap mulai tergerus begitu tiga sekawan ini menunggangi Dying Gull. Layaknya laut, terkadang laju film bergelombang mahir yang memberi sentakan-sentakan, tetapi tak jarang pula mengalun amat tenang. Laju yang tak mempunyai konsistensi ini berdampak pada munculnya rasa lelah selama mengikuti pelayaran dan tak pelak terbersit harapan biar film segera berakhir.
Sentakan-sentakan yang ada pun tak selamanya menimbulkan semangat, malah acapkali berasa repetitif. Disamping pengarahan kurang luwes dari duo sutradara, ini disebabkan pula oleh naskah lemah racikan Jeff Nathanson yang juga turut andil dalam membatasi ruang gerak para pemain dalam menginterpretasikan peran masing-masing. Alhasil, tidak sedikit diantaranya berakhir masbodoh. Javier Bardem memang tampak mengerikan nan mengancam sebagai villain utama dari instalmen kelima ini, namun duo pelakon baru di franchise ialah Brenton Thwaites beserta Kaya Scodelario kurang mempunyai momen untuk menonjolkan karisma mereka demi mengikat penonton, dan Johnny Depp selaku bintang film utama malah acapkali diperlihatkan teler (atau kebosanan?) seraya melontarkan lawakan-dagelan kering daripada memberi bantuan signifikan terhadap pergerakan cerita. Agaknya, baik sang penulis naskah, sutradara, maupun Depp, telah kehabisan stok ilham dalam menyebarkan sosok Jack Sparrow yang dulunya amat mengasyikkan buat ditengok ini. Kejenuhan yang sempat menyergap di pertengahan film, untungnya mampu sedikit teratasi sehabis Salazar’s Revenge beralih ke babak ketiga. Kesenangan mencuat – kendati asupannya tidak setinggi awal mula – dan penonton pun berkesempatan menyambut kembalinya Will beserta Elizabeth ke keluarga besar Pirates of the Caribbean. Yaaa, paling tidak jilid ini masih menawarkan hiburan sekalipun akan seketika terlupakan hanya beberapa hari sesudah kita menyimaknya di gedung bioskop.
Note : Jangan terburu-buru beranjak, Pirates of the Caribbean: Salazar's Revenge memiliki satu post-credits scene yang terletak paling ujung dan penting buat disimak terutama jika kau penggemar franchise ini.
Acceptable (3/5)



Post a Comment for "Review : Pirates Of The Caribbean: Salazar's Revenge"