Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : Nirwana Yang Tak Dirindukan 2


“Nggak ada perempuan yang nrimo menyebarkan, Mas. Dan saya nggak mau, Mas terbebani dengan harus berlaku adil.” 

“Apakah... ada laki-laki lain?” 

Dalam Surga Yang Tak Dirindukan, kebahagiaan Arini (Laudya Cynthia Bella) mendadak terenggut saat mendapati suami tercintanya, Pras (Fedi Nuril), diam-diam telah mempersunting wanita lain, Meirose (Raline Shah), sebagai istri muda tanpa seizinnya. Keputusan Pras untuk menikah lagi bukannya tanpa alasan. Dia berikrar akan membawa Meirose ke pelaminan demi menggagalkan planning bunuh diri wanita malang yang sedang mengandung ini. Dengan adanya orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga Arini bersama Pras, ‘si perempuan terdzalimi’ Arini pun tak kuasa lagi menahan emosinya. Deraian tangisannya menghiasi hampir seluruh durasi film dan tak ayal turut mendorong para penonton untuk mengeluarkan tissue guna menyeka bulir-bulir air mata yang membahasi pipi. Setidaknya 1,5 juta pasang mata ikut dibentuk nelangsa menengok kisruhnya jalinan asmara Arini sehingga tidak mengherankan MD Pictures mempunyai inspirasi melanjutkan film ke jilid kedua. Mengingat sejatinya rumitnya simpul konflik telah terurai di penghujung film – Meirose menetapkan melanjutkan hidupnya sendiri tanpa campur tangan Pras, tentu ada sekelumit rasa penasaran terundang. Apa ya yang akan dicelotehkan oleh Surga Yang Tak Dirindukan 2

Berselang empat tahun usai perpisahan Arini-Pras dengan Meirose di stasiun kereta api, Arini yang kini menggeluti profesi sebagai penulis buku bawah umur memperoleh seruan ke Budapest untuk memperlihatkan lokakarya sekaligus mempromosikan bukunya. Ditemani putri semata wayangnya, Nadia (Sandrinna Michelle Skornicki), dan manajernya, Sheila (Nora Danish), Arini pun bertolak ke ibu kota negara Hungaria tersebut sementara Pras yang masih disibukkan dengan urusan pekerjaan menyusul beberapa hari lalu. Tidak pernah diperkirakan oleh Arini, perjalanan bisnisnya ini akan kembali mempertemukannya bersama Meirose yang belakangan diketahui telah berhasil berdamai dengan era lalu kelamnya dan bersiap menempuh hidup gres bersama kekasihnya, Dr Syarief (Reza Rahadian). Bahkan demi menyempurnakan langkahnya untuk move on, Meirose berniat meminta Pras menceraikannya secara resmi. Akan tetapi, situasi yang sepertinya sudah tepat bagi masing-masing pihak ini lantas kembali mengusut tatkala Pras menjejakkan kaki di Budapest dan tiba-datang Arini justru meminta suaminya biar tidak meninggalkan Meirose. Tidak memperoleh penjelasan apapun, Pras jelas kebingungan hingga kemudian belakang layar besar yang ditutup rapat oleh Arini dari orang-orang terdekatnya selama ini terbongkar.


Dibandingkan seri pertama, Surga Yang Tak Dirindukan 2 cenderung lebih kalem pula dewasa dalam bertutur. Letupan-letupan emosinya tidak sebombastis pendahulunya terlebih para karakter utama dipaparkan telah menemukan surganya masing-masing. Keputusan Hanung Bramantyo menghantarkan film ini dengan gaya sedikit berbeda dari film terdahulu terang berdampak ganda. Di satu sisi, mereduksi elemen melodramanya menciptakan Surga Yang Tak Dirindukan 2 tampak segar serta elegan, sementara di sisi lain, penonton yang kedarung mengantisipasi akan adanya banjir mata di jilid kedua ini bisa jadi akan mencicipi kelelahan berbalut kejenuhan lantaran laju filmnya terbilang hening dan hanya ada segelintir momen-momen pemantik emosi. Disamping adegan Nadia tanpa sengaja mencuri dengar obrolan Arini bersama Dr Syarief, murni tidak ada gejolak yang memainkan perasaan penonton sedemikian rupa di paruh pertama. Yang kemudian menambat perhatian yaitu bagaimana jajaran pelakonnya berolah peran, khususnya Reza Rahadian yang kentara sekali menawarkan usahanya agar sosok Dr Syarief tak lebih dari sekadar pemeriah suasana belaka. Reza memberi perhatian khusus terhadap gaya berbicaranya, gestur, serta air muka sehingga karakter yang berpotensi lempeng apabila dimainkan pemain film sembarangan ini serasa memiliki kompleksitasnya tersendiri. Kita mampu terhubung padanya, lalu lalu peduli terhadap nasibnya. 

Beruntungnya Reza, beliau memperoleh lawan main yang sanggup mengimbangi kekuatan aktingnya. Raline Shah menawarkan peningkatan dari sisi performa dalam Surga Yang Tak Dirindukan 2. Ekspresinya menyiratkan adanya kegundahan akhir kurun lalu yang kembali menyapa, adanya kecanggungan dalam berinteraksi dengan keluarganya, dan adanya ketulusan yang memberikan rasa teduh. Apabila film pertama condong mengarahkan penonton untuk berpihak kepada Arini, maka sekali ini sumbangan disematkan kepada Meirose yang terombang-ambing diantara dua pilihan hidup sama baiknya. Apakah ia harus kembali ke kurun kemudian yang coba dihempaskannya demi membahagiakan pihak lain atau justru mengejar kala depan yang berarti akan meninggalkan guratan kekecewaan bagi pihak lain? Tangisannya di hadapan Dr Syarief yakni momen terbaik dari Surga Yang Tak Dirindukan 2. Kala Raline bersama Reza beradu tugas bersama, mereka menghadirkan chemistry meyakinkan. Memunculkan sekelumit cita-cita, kedua aksara yang dibawakan mereka akan bersatu. Dengan adanya atraksi akting manis semacam ini, rasa jenuh yang muncul dari datarnya penceritaan di awal mula plus rasa sebal yang dipantik oleh muatan humor dengan kadar agak berlebih sampai-sampai tak lagi lucu pun dapat ditekan. Paling tidak, begitu film menginjak 30 menit terakhir, daya tarik beserta gejolak emosi mulai terdeteksi seiring makin meruncingnya konflik dan memperlihatkan penonton sejumlah momen-momen mengharu biru yang cukup berkesan.

Acceptable (3/5)


Post a Comment for "Review : Nirwana Yang Tak Dirindukan 2"