Review : Monster Trucks
Monster Trucks bantu-membantu mengkhawatirkan. Betapa tidak, ketika sebuah film maju mundur elok dalam hal perilisan berulang kali (total jenderal, acara edar Monster Trucks direvisi sebanyak 5 kali!), tentunya ada beberapa poin yang menyebabkan si pemilik film ragu-ragu untuk melepaskan filmnya ke khalayak ramai. Kemungkinan paling masuk akal dan memang seringkali begitu adanya, hasil selesai jauh dibawah pengharapan. Turut dijadikan kambing hitam pula sebagai salah satu penyebab kerugian Viacom – konon, film menelan dana sebesar $125 juta (!!!) dan telah diprediksi tidak akan mampu mencapai titik impas apalagi untung – semakin menguatkan energi negatif yang telah melingkungi Monster Trucks. Belum apa-apa sudah keder duluan, khawatir filmnya bakal bikin dongkol hati begitu menjejakkan kaki di luar gedung bioskop. Dari serentetan perilaku pesimis, timbul satu pertanyaan, “apakah Monster Trucks memang sedemikian mengecewakannya?.” Pertanyaan yang sempat menggelayuti benak selama beberapa pekan ini kesudahannya terjawab sesudah menetapkan untuk menonton Monster Trucks di layar lebar.
Jagoan dalam film live action perdana arahan Chris Wedge (Ice Age, Robots) ini yakni seorang pelajar SMA tingkat selesai bernama Tripp (Lucas Till). Bermasalah di rumah dan terpinggirkan di sekolah, Tripp menemukan kebahagian dalam hidupnya saat bekerja paruh waktu di kawasan pembuangan mobil bekas lantaran ia banyak menggunakannya untuk merakit truknya sendiri. Kehidupan Tripp yang penuh kecemasan sontak berubah sehabis sesosok makhluk aneh mirip gurita menyambangi tempat kerjanya. Rupanya makhluk yang belakangan dinamai Creech ini sedang diburu oleh bos minyak, Reece (Rob Lowe), yang tidak ingin bisnisnya terganggu gara-gara diketahui ada satwa langka hidup di sekitaran area kilang minyaknya. Dibantu oleh sahabat sekolahnya, Meredith (Jane Levy), yang secara tidak sengaja ikut terlibat, Tripp berupaya menyelamatkan Creech yang diam-diam mempunyai intelejensi diatas rata-rata dan mampu menjelma menjadi mesin bagi truk Tripp, dari kejaran korporasi kejam milik Reece. Di tengah-tengah petualangan ini, persahabatan unik diantara Tripp dan Creech pun lambat laun mulai terbentuk yang lantas mengungkap fakta lain mengenai Creech.
Plotnya sangat sederhana. Kentara disasarkan bagi penonton cilik dari rentang usia 4 sampai 12 tahun sehingga jalinan pengisahannya bisa dimaklumi kalau tidak pernah tergali mendalam, guliran konfliknya tidak hingga diperuncing, dan sekuens laganya pun masih dalam tahapan kondusif. Ya, Monster Trucks memang sebuah film yang ditujukan sebagai hiburan ringan untuk seluruh anggota keluarga. Penonton cilik bakal bersorak sorai menyaksikan truk yang ‘dikendarai’ Creech melompat-lompat liar di atas atap pertokoan, kemudian dilanjut kejar-kejaran seru, sementara penonton cukup umur boleh jadi akan dibuat mendengus kesal olehnya atau malah cukup menikmati tergantung seberapa tinggi kemampuanmu menolerir kekonyolan yang menghiasi sepanjang durasi dan sejauh mana Monster Trucks mampu membawamu bernostalgia ke film-film keluarga pada dekade 80-an serta 90-an. Mau tidak mau, Monster Trucks melayangkan ingatan ke film-film keluarga bernafaskan fantasi di periode tersebut semacam E.T., Flight of the Navigator, sampai Small Soldiers yang celotehannya turut mengusik seputar perkawanan ganjil antara insan dengan makhluk aneh.
Monster Trucks mencuri perhatian aku alasannya faktor terakhir. Aroma nostalgianya menguar besar lengan berkuasa hingga-sampai sulit menahan sisi kanak-kanak dalam diri untuk tidak ikutan bersuka cita. Hey, semakin jarang kan kini menjumpai film keluarga ihwal persahabatan lintas spesies? Mulanya memang agak susah terkoneksi pada film mengingat skrip tipisnya tidak memungkinkan penonton memperoleh isu memadai mengenai bangunan dunianya maupun terkoneksi ke barisan karakternya. Belum lagi, Creech lebih sering tampak menjijikan ketimbang imut-imut menggemaskan. Tapi seiring berjalannya waktu, dikala Creech diketahui sanggup melebur cantik dengan truk yang menjadikan truk dapat meluncur gesit dan misi melarikan diri dari kejaran antek-antek Reece dimulai, film mulai memberikan daya pikatnya. Wedge berhasil menginjeksikan kesenangan dalam rentetan adegan kejar-kejarannya yang mengambil lokasi di jalan raya, tengah kota, sampai tebing. Interaksi Tripp bersama Creech dan Meredith pun berangsur lezat disimak. Meski secara perawakan tampak kurang meyakinkan sebagai pelajar Sekolah Menengan Atas, Lucas Till beserta Jane Levy memiliki karisma untuk menciptakan huruf masing-masing tidak berakhir menyebalkan dan mudah disukai. Kombinasi cukup baik antara tabrak seru bersama kekerabatan hangat antar abjad (plus, adanya nostalgia!) inilah yang lalu pada hasilnya menggugurkan kata “mengecewakan” untuk mendefiniskan Monster Trucks dan digantikan oleh kata “menyenangkan”.
Acceptable (3/5)



Post a Comment for "Review : Monster Trucks"