Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : Doctor Strange


“You think you know how the world works. You think this material universe is all there is. What if I told you the reality you know is one of many?” 

Dengan pustaka film kepunyaan Marvel Studios telah mempunyai sejumlah koleksi terhitung sangat impresif semacam Iron Man 2, Captain America: Winter Soldier, hingga The Avengers, sejatinya sudah cukup sulit membayangkan langkah apa selanjutnya yang bakal mereka tempuh guna mempertahankan posisi sebagai penghasil pembiasaan film komik terkemuka di dunia saat ini. Di periode pesimistis mulai mengusik, serentetan kejutan satu demi satu menyeruak berwujud Guardians of the Galaxy yang berjasa mempopulerkan kembali tembang-tembang dari abad 60-70’an, Ant-Man mencuplik elemen heist movie, hingga paling anyar, Doctor Strange, yang menguatkan kembali iman bahwa studio ini tidak akan membuat film jelek... setidaknya dalam waktu bersahabat. Tajuk utama dari film keempat belas dalam rangkaian Marvel Cinematic Universe ini sendiri telah berteriak cukup lantang untuk menggambarkan mirip apa tontonan yang bakal kita dikonsumsi, ialah strange (ajaib) – meski kata “strange” disini merujuk pada nama belakang si abjad utama, bukan berfungsi sebagai kata sifat. Akan terdengar cenderung hiperbolis memang menyebut Doctor Strange sebagai sebuah “the strangest mainstream movie I’ve ever seen!”, tapi memang begitulah adanya. Mendobrak segala batasan-batasan yang ada, film isyarat Scott Derrickson ini membawamu menjelajahi dunia khayalan yang boleh jadi tak pernah kamu bayangkan akan bisa dicicipi di film superhero sebelumnya. 

Sebagai sebuah origin story, Doctor Strange memang tidak membawa banyak pembaharuan dari sektor plot. Polanya serupa tapi tak sama dengan film-film Marvel Studios terdahulu, utamanya Iron Man, mengingat huruf Dokter Stephen Strange (Benedict Cumberbatch) yakni seorang jenius kaya nan besar kepala mirip halnya Tony Stark. Arogansi Strange terbentuk karena ia mempunyai kecerdasan diatas rata-rata yang berkontribusi dalam melesatkan karirnya menjadi salah satu dokter seorang ahli bedah syaraf paling kuat. Akan tetapi, segala kesempurnaan dalam hidup Strange seketika terenggut saat kedua tangannya tidak mampu lagi berfungsi secara semestinya pasca beliau mengalami kecelakaan mobil andal. Jangankan untuk berakrobatik di ruang operasi, sekadar mencukur jambang saja kesulitan bukan main. Berbulan-bulan memburu pertolongan dari dunia medis modern guna memulihkan tangannya namun tak satupun membawa hasil, pencarian Strange lantas membawanya ke Nepal sehabis memperoleh informasi dari mantan penderita paraplegia (kelumpuhan syaraf di bab bawah badan) yang sekarang telah bisa berjalan. Konon di sebuah daerah berjulukan Kamar-Taj, tersimpan keajaiban dan kekuatan sulit terjabarkan yang memungkinkan para penghuninya menembus dimensi ruang serta waktu. Terbiasa memakai logika sebagai solusi, akal berpikir Strange pun terusik sampai lalu pemilik daerah keramat tersebut, The Ancient One (Tilda Swinton), memberikan apa yang bisa diperbuatnya apabila dia bisa menguasai ilmu-ilmu mistis. 

Doctor Strange itu abnormal, memang benar. Tapi bukan gila dalam makna peyorasi, melainkan justru sebaliknya dimana kamu akan disuguhi pertunjukkan visual sinting yang akan membuatmu mengucap syukur karena teknologi telah berkembang pesat sampaumur ini. Tidak sekadar ingin pamer kecanggihan efek khusus buat gaya-gayaan kepada penonton – tanpa ada sedikitpun signifikansi terhadap pergerakan plot film itu sendiri seperti sering dilakukan oleh mayoritas film blockbuster – penerapan keajaiban teknologi dalam Doctor Strange dilakukan sebagai medium buat bercerita. Ada kebutuhan mendesak dibaliknya yakni demi memvisualisasikan konsep dimensi lain (seperti Dimensi Cermin), eksistensi multisemesta, serta unsur magis yang mampu digapai dari pembelajaran soal mystic arts seperti dimaui sang kreator, Steve Ditko. Mendeskripsikan seperti apa kreativitas visualisasinya dalam bentuk untaian kata-kata tidak juga gampang sehingga penggunaan tumpuan film Inception instruksi Christopher Nolan pun tak terelakkan. Ini berlaku untuk Dimensi Cermin dengan gravitasi jungkir balik, bangunan-bangunan pencakar langit yang terlipat-lipat kolam kertas origami, sampai pergantian tanpa henti struktur kota. Sedangkan ketika jiwa raga Strange diboyong The Ancient One menjelajahi dimensi lain, Scott Derrickson mengaplikasikan visual bergaya psychedelic yang akan turut memberimu ketakjuban sekaligus kecemasan di saat bersamaan hasil dari rasa sangat mengganggu yang ditimbulkan oleh visual tersebut. 

Unggul banyak dari sisi tampilan, Doctor Strange tidak kemudian berakhir sebagai tontonan style over substance. Walau plotnya kagak istimewa-istimewa amat – keluhan terbesar adalah polanya seirama dengan beberapa film Marvel sebelum ini – Scott Derrickson dan penulis skenario C. Robert Cargill tetap mampu membentuk guliran pengisahan yang renyah buat dikudap serta mudah dinikmati. Hentakan telah dimulai sedari menit pertama saat The Ancient One memburu mantan muridnya yang membelot, Kaecilius (Mads Mikkelsen), dalam sebuah adegan kejar mengejar penuh energi dengan sebelumnya penonton terlebih dahulu diberi pemandangan mengejutkan terkait pemenggalan kepala (seriously, didn’t see that one coming!). Nada film yang terbentuk agam suram di permulaan lantas berlanjut, menggelayuti hari-hari Strange usai kecelakaan mencederai parah kedua tangannya. Mencapai titik ini sempat muncul tanda tanya besar apakah Marvel Studios mencoba merevolusi cara bertutur mereka melalui tone yang lebih kelam, hingga si titular character menjejakkan kaki di Kathmandu, Nepal, dan diantar Karl Mordo (Chiwetel Ejiofor) menuju Kamar-Taj dimana humor-humor one-liner pemicu gelak tawa mulai berhamburan satu demi satu mencerahkan suasana. Alih-alih mendistraksi, pembubuhannya mulus menyatu bersama plot dan turut mengeskalasi level excitement dari film. 

Tentu, salah satu kunci keberhasilan dari tersampaikannya serentetan kelakar lucu ialah performa jitu para pelakonnya terutama Benedict Cumberbatch yang perannya disini sedikit banyak mengingatkan pada Sherlock. Ya, kejelian dalam kasting pemain merupakan satu dari sejumlah keunggulan utama yang dipunyai Marvel Studios. Doctor Strange bisa jadi tidak akan sememikat ini apabila tidak memperoleh sokongan mengagumkan dari ensemble cast-nya yang kompak bermain bagus. Benedict Cumberbatch, sang punggawa departemen akting, menyuntikkan jiwa bagi sosok Strange. Terkadang dia sungguh menyebalkan hingga-sampai kita berharap tidak memiliki rekan kerja seperti beliau, terkadang dia memberi keceriaan di tengah-tengah suasana serba kaku maupun tegang melalui celetukan-celetukan konyolnya, terkadang ia tampak cerdas nan berwibawa sehingga kita memahami mengapa The Ancient One memberi keyakinan besar padanya, dan terkadang pula ia terlihat sebagai sosok ringkih yang membutuhkan pelukan hangat dari kita. Kepiawaian Cumberbatch berolah-alih mempermainkan rasa sesuai kebutuhan menciptakan penonton tidak kesulitan untuk menginvestasikan emosi. Begitu pula Tilda Swinton yang karismatik (salah satu momen terbaiknya ada di adegan balkon), Chiwetel Ejiofor yang sikapnya dipenuhi ambiguitas, Mads Mikkelsen yang menguarkan aroma mengancam, Benedict Wong sebagai pustakawan Kamar-Taj senantiasa mencuri perhatian di setiap kemunculannya, dan Rachel McAdams dengan jatah tampil terbatas sebagai rekan kerja Strange berkontribusi memaksimalkan akting Cumberbatch tiap kali keduanya bersinggungan. Mereka ialah senjata bagi Doctor Strange untuk memenuhi potensinya disamping hamparan visual mengagumkan beserta penuturan mengasyikkan.

Outstanding (4/5)

Note : Dua adegan bonus terselip masing-masing di pertengahan dan penghujung credit title. Sebaiknya bertahanlah sampai film benar-benar habis alasannya keduanya teramat sayang buat dilewatkan. 



Post a Comment for "Review : Doctor Strange"