Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : Dear Nathan


“Saya seneng, kau ngomong pakai saya kau. Berasa kayak orang pacaran beneran.” 

Baru beberapa hari lalu diri ini berjingkat-jingkat kegirangan lantaran mendapati film percintaan cukup umur buatan dalam negeri yang kualitasnya melampaui semenjana dalam Galih dan Ratna, tanpa disangka-sangka kegirangan tersebut bakal terpicu lagi oleh Dear Nathan. Berbeda halnya dengan Galih dan Ratna yang materi sumbernya amat meyakinkan – pijakannya ialah film romantis klasik, maka Dear Nathan yang mempergunakan novel teenlit laku bagus rekaan Erisca Febriani hasil kompilasi dari tulisannya di situs Wattpad sebagai tumpuan utama boleh dibilang agak mewaspadai. Meragukan dalam arti naga-naganya film akan susah dinikmati penonton yang bukan berasal dari pangsa pasar utamanya atau dengan kata lain sampaumur usia belasan yang masih mengenakan seragam sekolah. Ya, telah menjadi diam-diam umum bahwa film romantis khusus cukup umur Indonesia akil balig cukup akal ini acapkali mempunyai kecenderungan mengalienasi penonton diluar pangsa pasar utamanya sampai-hingga munculnya sikap meremehkan terhadap Dear Nathan pun amat bisa dipahami. Ditemani skeptisisme masa melangkahkan kaki memasuki gedung bioskop demi menyaksikan Dear Nathan, sebuah tamparan kecil mendarat ke diri ini begitu lampu bioskop dinyalakan membuktikan pertunjukkan telah usai. Rupanya, Dear Nathan bukanlah film menye-menye kosong nan menyebalkan seperti disangkakan dan malah justru sebaliknya, ini yakni tontonan yang manis, lucu, dan cukup emosional. Dear Nathan pun bolehlah diajak bergabung ke dalam kelompok ‘film percintaan sampaumur buatan sineas Indonesia yang enak buat ditonton’ yang anggotanya terhitung sedikit itu. 

Dear Nathan ialah dongeng asmara antara seorang siswa berandalan dengan seorang siswi taat hukum. Si pemuda yakni Nathan (Jefri Nichol) yang tersohor di sekolahnya karena kerap bikin onar, sedangkan si cewek ialah siswi gres yang berusaha mengukir prestasi, Salma (Amanda Rawles). Perjumpaan keduanya dimulai tatkala Salma telat datang ke sekolah dan Nathan membantunya menyelinap masuk demi menghindarkan Salma dari eksekusi. Sikap Salma yang berbeda terhadap Nathan (berdasarkan Nathan, Salma melihatnya sebagai manusia) menciptakan berandalan sekolah ini jatuh hati. Dia berusaha menaklukkan hati si murid gres bahkan secara terang-terangan menyatakan rasa cintanya. Hanya saja, sulit bagi Salma untuk benar-benar menentukan pilihan hatinya. Di satu sisi, beliau ingin menghindar dari dilema yang kerap bersanding akrab bersama Nathan. Namun di sisi lain, dia pun tidak mampu menyangkal bahwa dirinya menaruh perasaan pada Nathan. Kebimbangan Salma kian menjadi-jadi saat sang ketua OSIS, Aldo (Rayn Wijaya), turut memberi perhatian lebih terhadapnya. Apakah beliau akan menetapkan pilihannya ke Nathan yang terang-jelas penuh duduk perkara atau malah Aldo yang di permukaan tampak mempunyai ‘boyfriend material’? Dalam kebimbangannya, serentetan insiden mendorong Salma untuk lebih dekat pada Nathan yang membuatnya mampu melihat sosok Nathan dari sudut pandang berbeda dan perlahan tapi niscaya kian memperkuat percikan-percikan asmara diantara mereka. 

Berkaca pada sinopsis, bahan cerita Dear Nathan sejatinya klise. Entah sudah berapa kali film percintaan sampaumur mengusung tuturan soal cerita kasih antara si pembangkang dengan si rajin berlatar masa-periode Sekolah Menengan Atas. Tengok saja kawasan Asia yang semenjak popularitas serial Meteor Garden mengangkasa, berderet-deret film berjalur romantis mempergunakan template senada. Salah satu yang terbaru dan meninggalkan kesan mendalam di hati yakni Our Times (2015). Memboyong materi dongeng yang tidak lagi aneh di pendengaran semacam ini cenderung beresiko. Apabila si pembuat film kurang mahir bercerita, film akan berakhir bak epigon. Butuh kecakapan dalam mengolahnya agar meninggalkan cecapan rasa besar lengan berkuasa di tamat, membuatnya terasa segar sekaligus memposisikannya menjulang diantara film-film sejenis. Dan beruntunglah bagi Dear Nathan, tim yang solid menyokongnya dari banyak sekali lini sehingga bisa meninggalkan cecapan rasa berpengaruh di akhir sekalipun bahan obrolannya tidak lagi baru. Indra Gunawan yang sebelumnya mengobrak-abrik emosi penonton melalui Hijrah Cinta yang kurang mendapat sorotan, menempati kursi penyutradaraan. Dia bertugas mengejawantahkan skenario racikan Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Talak 3) dan Gea Rexy ke dalam bahasa gambar. Dalam Dear Nathan, Indra mempertegas bahwa sosoknya sudah saatnya diperhitungkan. Keterampilannya menggulirkan penceritaan di Dear Nathan paling kentara mencolok di 30 menit awal yang mengasyikkan sekaligus menit-menit jelang film tutup durasi yang bukan saja emosional tetapi juga bagus. Sikap penuh keragu-raguan seketika terhempas hanya beberapa ketika usai film memulai langkah pertamanya.


Membawa nada penceritaan yang cerah ceria kolam dewasa-remaja yang tengah dimabuk asmara, Dear Nathan tidak ingin melenakan penonton sekadar dengan tangkapan gambar indah maupun gugusan obrolan ala pujangga tanpa konteks terperinci. Plot dan karakter pun dianggap penting. Penonton telah dikondisikan untuk menaruh kepedulian kepada kedua aksara utamanya sedari awal. Demi memperkuat karakteristik dari masing-masing tokoh, si pembuat film pun memanfaatkan barisan karakter pendukung. Keberadaan sahabat-teman sekolah Nathan maupun Salma bukan sekadar aksesori belaka. Begitu halnya dengan sosok keluarga. Dari mereka, kita mampu melihat Nathan dan Salma menggunakan banyak sekali jenis kacamata dan memahami motivasi atas setiap tindak tanduknya. Ada dinamika tersendiri dalam sosok keduanya yang sedikit banyak membantu mereka terhindar dari abjad tipikal khas film sejenis. Kita terpikat pada Nathan yang bengal, kita terpikat pada Salma yang polos, dan hasil hasilnya, kita terpikat pada cerita asmara yang merekatkan keduanya. Kesanggupan kita untuk terhubung ke para abjad juga dipicu oleh bangunannya yang membumi. Sosok Nathan dan Salma ada di sekitar kita (atau malah diri kita!), kemudian konflik yang melingkungki keduanya pun mudah dijumpai. Ketika penonton sudah membentuk ikatan bersama aksara kunci, maka mudah saja bagi si pembuat film untuk membius kita dengan rentetan konflik yang menghadang para tokoh. Muncul kebahagiaan menyimak dua sejoli ini berduaan, muncul ketidakrelaan melihat jurang pemisah diantara mereka kian menganga lebar, dan muncul kehangatan menyaksikan salah satu dari mereka jadinya berkonsiliasi dengan masa kemudian. Lebih dari sekadar film percintaan, Dear Nathan turut mengapungkan informasi mengenai perundungan, prasangka, dan keluarga disfungsional yang alih-alih mendistraksi malah kian memperdalam plot utama. 

Jalinan pengisahan yang telah dirangkai dengan begitu apiknya kian terangkat berkat barisan pemain yang suguhkan lakon solid. Jefri Nichol dan Amanda Rawles merupakan bukti nyata kejelian tim casting dalam memilih pemain. Mereka tidak semata-mata cocok secara perawakan, tetapi juga sanggup untuk menghidupkan sosok Nathan dan Salma. Jefri Nichol melebur secara meyakinkan ke dalam jiwa Nathan, membuat penonton tetap dapat jatuh hati kemudian bersimpati kepada Nathan. Gelegak emosinya di paruh simpulan bersama Surya Saputra yang memerankan ayahanda Nathan menjadi salah satu bab terbaik dari film dan terbilang berhasil memaksa penonton untuk mengeluarkan sapu tangan dari saku celana demi mengusap bulir-bulir air mata. Performa Jefri Nichol mampu terasa maksimal – bahkan ia amat bersinar disini – karena disandingkan dengan lawan main yang juga klop. Disamping Surya Saputra, ada pula Ayu Dyah Pasha, Karina Suwandi, Diandra Agatha, Beby Tsabina, serta tentunya, Amanda Rawles yang jalin chemistry apik bersama Jefri Nichol. Seperti halnya Jefri Nichol, Amanda Rawles pun tampak effortless memerankan Salma. Dalam interpretasi kurang sempurna, Salma berpotensi terperosok menjadi karakter menjengkelkan apalagi acapkali ia plin plan atas keputusannya. Namun Amanda Rawles berhasil melakonkannya dengan amat baik yang menciptakan Salma gampang untuk disukai (senyum-senyum canggungnya bikin gemes!) dan kita pun memahami kegamangan hatinya dalam menentukan pilihan. 

Melihat sokongan tidak main-main dari bermacam-macam departemen, tidak mengherankan jikalau pada akhirnya Dear Nathan sanggup terhidang sebagai film percintaan remaja yang menyenangkan. Mendatangkan gelak tawa, mengundang sunggingan senyum dan menghadirkan kehangatan. Bagus!

Outstanding (4/5)


Post a Comment for "Review : Dear Nathan"