Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : The Boss Baby


“If I don’t succeed in this mission, I will live here forever with you!” 
“Okay, I will help you. But just to get rid of you.” 

Ada similaritas antara The Boss Baby dengan Storks (2016): bangunan konflik dua film animasi tersebut beranjak dari satu pertanyaan polos yang kerap diajukan oleh para bocah, “darimana sih asal muasal munculnya bayi?”. Jawaban fiktif paling kondang dilontarkan di kalangan orang bau tanah negeri barat yakni dihantar seekor bangau putih. Storks mengamini dongeng bangau pengantar bayi tersebut, kemudian memberinya sentuhan modern besar-besaran. Sementara The Boss Baby, mengkreasi versi berbeda untuk menjawab pertanyaan ihwal asal muasal munculnya bayi. Animasi terbaru kepunyaan Dreamworks Animation selepas Trolls di penghujung tahun kemudian yang dasar kisahnya disadur secara bebas dari buku dongeng bergambar rilisan tahun 2010 berjudul sama rekaan Marla Frazee ini menyatakan bahwa bayi merupakan hasil produksi sebuah perusahaan. Bukan perusahaan biasa, tentu saja, mengingat korporasi khusus penghasil bayi berjulukan Baby Corp ini berbasis nun jauh di atas permukaan bumi – mampu dibilang, surga – dan karyawan-karyawan yang mendedikasikan waktu serta tenaganya di sana terdiri dari bayi-bayi menggemaskan dengan kemampuan selayaknya orang dewasa. What a twist, huh? 

Salah satu pekerja di Baby Corp ialah huruf utama dari film yang dipanggil The Boss Baby (disuarakan oleh Alec Baldwin). Sang abjad tituler dititahkan atasannya ke bumi untuk mencegah perusahaan penyedia bawah umur anjing lucu, Puppy Co., berekspansi menyusul direncanakannya peluncuran produk baru yang berpotensi menggerus kekuatan bisnis Baby Corp. Konon, berdasarkan data statistik yang dimiliki perusahaan penghasil bayi tersebut, insan sampaumur era kini lebih mendamba keberadaan anak anjing ketimbang bayi. Dengan misi menghentikan Puppy Co., The Boss Baby pun menyamar sebagai putra gres dari keluarga Templeton yang konfigurasinya tersusun atas Ted (Jimmy Kimmel), Janice (Lisa Kudrow), dan Tim (Miles Christopher Bakshi). Kedatangan The Boss Baby seketika menguarkan aroma mengancam bagi Tim yang mulanya yakni putra semata wayang. Betul saja, semenjak adanya ‘sang adik’, perhatian Ted beserta Janice kepada Tim berkurang cukup drastis. Tidak ada lagi lagu pengantar tidur, apalagi bermain bersama. Tim yang mencurigai gerak-gerik adik barunya sedari awal lantas menyusun rencana untuk membongkar kedoknya kemudian menyingkirkannya. Permusuhan diantara abang beradik ini pun tak lagi terelakkan.


Seperti halnya saat menyaksikan Storks tahun kemudian, The Boss Baby pun meninggalkan tiga macam rasa: takjub, hangat, dan bahagia. Takjub, karena Tom McGrath (trilogi Madagascar, Megamind) punya cara yang abnormal dan imajinatif untuk menciptakan sederet momen pemacu semangat sekaligus pemicu gelak tawa. Hangat, alasannya adalah film menggelontorkan pesan mengenai keluarga yang mengena di hati. Dan senang, sebab The Boss Baby mampu mempermainkan emosi sedemikian rupa – dari tawa sampai tangis – sepanjang durasinya mengalun. Boleh dikata, inilah salah satu kejutan termanis dari Hollywood di kuartal awal tahun 2017. The Boss Baby melampaui ekspektasi dari penontonnya yang rasa-rasanya tidak sedikit diantaranya berharap hanya sekadar disodori visualisasi tingkah polah menggemaskan para bayi. Bahkan, daya pikat dari film telah mengemuka sedari film memulai langkah awalnya. Ada narasi mengikat dari Tobey Maguire selaku narator dan Tim sampaumur yang mendeskripsikan bagaimana kala kecilnya yang senang serta sarat akan khayalan meluap-luap. Ada pula hamparan pemandangan imut yang menyoroti bayi-bayi baru didandani oleh mesin untuk kemudian disortir: bergabung bersama perusahaan atau menjalani kehidupan normal sebagai bayi. The Boss Baby kian menarik buat diikuti dikala jadinya si bayi tiba (dengan cara yang menggelitik saraf tawa!), lalu mengontrol penuh keluarga Templeton. 

Kunci dari menit-menit berikutnya yang mengasyikkan yaitu khayalan tak terbatas dari si pembuat film. Tidak sekreatif maupun segila-gilaan Storks sih (siapapun yang punya gagasan soal wolfpack, beliau jenius!), tetapi persebaran momen seru nan kocak di The Boss Baby lebih merata. Dengan kata lain, dapat dijumpai dengan gampang lewat beberapa titik. Beberapa yang cukup meninggalkan kesan mendalam lantaran efektif membuat ledakan tawa antara lain kejar-kejaran antara Tim dengan persekutuan bayi-bayi di halaman belakang, mimpi buruk Tim yang memperlihatkan adiknya bertransformasi ke banyak sekali wujud, ‘keakraban’ Tim dengan si bos demi meyakinkan Ted dan Janice bahwa mereka telah akur, upaya abang beradik ini menyelinap masuk ke dalam Puppy Co. guna mencuri berkas, hingga penuntasan misi di paruh selesai yang penuh “boom boom bang!” pula kekocakan. Keliaran khayalan ini beruntung mampu mencapai potensinya berkat sumbangsih cantik dari departemen pengisi bunyi. Alec Baldwin merupakan pilihan tepat dalam menyuarakan huruf bayi yang lagaknya amat bossy – sedikit banyak mengingatkan pada sosok Stewie dari serial animasi Family Guy – dan menciptakan penonton gregetan sekaligus ingin memberi kasih sayang di waktu bersamaan. Lalu ada Miles Christopher Bakshi yang begitu energik. Bersama Baldwin, ia membentuk chemistry apik sehingga terciptanya ikatan persaudaraan diantara Tim dan The Boss Baby mampu dicecap dan ketika film berada di titik emosionalnya penonton pun dapat turut tersentuh.

Note : The Boss Baby memiliki adegan pelengkap di pertengahan dan ujung credit title. Lucu, tapi tidak memiliki signifikansi. Silahkan mau disimak atau ditinggal keluar. 

Exceeds Expectations (3,5/5)


Post a Comment for "Review : The Boss Baby"