Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : Bid'ah Cinta


“Anugerah terbesar dari Allah buat manusia itu cinta. Tanpa cinta, manusia itu cuma saling benci.” 

Persoalan asmara terhalang tembok tinggi menjulang berwujud agama di Indonesia telah jamak diungkit-ungkit. Dalam khasanah film Indonesia kontemporer sendiri, kulikannya bisa dijumpai dalam Ayat-Ayat Cinta (2008), Cin(t)a (2009), 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2010), hingga Cinta Tapi Beda (2012). Isunya memang terbilang seksi, sekalipun solusinya kerap main kondusif lantaran rentan mengundang kontroversi tak perlu kalau si pembuat film lantas mengambil penyelesaian yang memenangkan “cinta” alih-alih “agama”. Barangkali dilatari keengganan memicu keributan di masa masyarakat yang kian gampang mengencang urat syarafnya ini, polemik asmara satu doktrin beda paham tak juga diangkat oleh sineas tanah air padahal kasusnya di ruang publik tak kalah marak dibanding beda iman (oh ya, kerap menjumpai pasangan gagal menikah disebabkan satu pihak menganut manhaj/metode A sementara pihak lain mengaplikasikan manhaj B). Beruntunglah Nurman Hakim yang sebelumnya gelontorkan realita kehidupan pesantren dalam 3 Doa 3 Cinta serta sentil atribut relijius di Khalifah, bersedia memberi publik kesempatan buat melongok dongeng cinta terbentur paham melalui Bid’ah Cinta. Seperti halnya kedua film reliji buatan Nurman terdahulu, Bid’ah Cinta pun lebih dari sekadar berbincang soal “cinta terlarang” yang sesungguhnya pemberi jalan saja ke dilema lebih besar mengenai kian rumitnya kehidupan beragama di Indonesia dewasa ini. 

Karakter utama Bid’ah Cinta yakni dua sejoli yang tengah dimabuk asmara, Khalida (Ayushita Nugraha) dan Kamal (Dimas Aditya). Berasal dari dua keluarga dengan pemahaman soal Islam yang bertentangan, menyulitkan keduanya untuk secepatnya melenggangkan hubungan ke ikatan ijab kabul. Khalida ialah putri bungsu dari Haji Rohili (Fuad Idris), penganut Islam tradisional yang masih melestarikan warisan ulama-ulama terdahulu seperti tahlil, Maulid Nabi, serta ziarah kubur, sedangkan Kamal adalah putra semata wayang dari Haji Jamat (Ronny P. Tjandra), penganut Islam puritan yang menganggap amalan di luar Al-Qur’an dan Hadits adalah sebuah bid’ah – secara bahasa bermakna menciptakan sesuatu tanpa ada pola sebelumnya. Dilingkupi cinta, sejatinya korelasi antara Khalida dengan Kamal baik-baik saja meski tak bisa dihindari ada kalanya mereka berseteru soal pandangan agama. Perseteruan keduanya kian memanas tatkala Ustad Jaiz (Alex Abbad) dari kelompok Islam puritan makin menancapkan pengaruhnya di kampung tempat mereka bermukim. Khalida gerah melihat tindak semena-mena dari para santri Ustad Jaiz yang menguasai masjid kampung sebagai tempat peribadatan eksklusif bagi kelompok mereka, sementara Kamal yang menganggap amalan Haji Rohili dan para santrinya sebagai bid’ah (dan itu berarti dosa jika dilakukan) melihat tidak ada yang salah dari tindakan pengikut Ustad Jaiz yang semata-mata hanya ingin menegakkan iman Islam. 

Ketimbang semata-mata membawa penonton pada sajian roman religi mengharu biru yang sarat akan tangis menangis akhir jalan terjal yang harus dilalui oleh Khalida dan Kamal hanya untuk bersatu dengan elemen religi ditempel sekenanya saja, Bid’ah Cinta justru sodorkan potret kasatmata, menyentil nan mengusik pikiran atas situasi bermasyarakat di tanah air dalam beberapa tahun belakangan yang kerap diwarnai perseteruan antar umat Islam dengan warna kelompok berlainan. Nurman tak bermaksud menyanjung kelompok tertentu kemudian menyudutkan kelompok seberang seperti disangkakan ratusan netizen di kolom komentar “trailer Bid’ah Cinta” dalam Youtube alasannya adalah film sejatinya hendak mempromosikan pesan mengenai toleransi yang agaknya mulai dilupakan oleh masyarakat Indonesia yang majemuk ini. Sebagai percontohan, Bid’ah Cinta menentukan Islam tradisional atau pro-tradisi dan Islam puritan yang memang kerap bersinggungan setidaknya di Jawa, kemudian dihadirkan pula sosok pemuda pengangguran yang kerap mabuk-mabukkan dan bencong berjulukan Sandra (Ade Firman Hakim) diantara kedua kelompok tersebut. Tidak ada keberpihakan secara eksplisit dari si pembuat film – walau tidak salah juga apabila ingin menawarkan posisinya – dengan masing-masing kelompok digambarkan memiliki titik lemahnya. Dalam artian, bukan dari anutan melainkan adanya satu dua penganut yang kebablasan sehingga sedikit banyak berkontribusi atas pembentukan gambaran Islam secara keseluruhan. Dari Islam tradisional diwakili sosok abang Khalida (Yoga Pratama) yang kerap memberi label ‘teroris’ terhadap Kamal sekalipun secara pemikiran, dirinya malah cenderung lebih radikal ketimbang Kamal.


Dari Islam puritan, sumbernya ialah mitra-mitra usang Ustad Jaiz dari pondok. Sebelum kehadiran mereka, ada harmoni dalam keseharian warga kampung: sholat berjamaah, masjid terbuka luas bagi siapapun yang hendak beribadah maupun menggelar kegiataan keagamaan tanpa ada batasan, dan tiada tabrakan-ukiran konflik antara Ustad Jaiz dengan Haji Rohili. Ya memang benar ada kalanya Haji Rohili banyabicara soal konten dakwah Ustad Jaiz maupun penyampaiannya yang berapi-api, begitu pula Ustad Jaiz beserta para santrinya yang geleng-geleng kepala melihat praktek bid’ah yang terus dijalankan. Namun kedua belah pihak yang mengaplikasikan metode berbeda dalam menafsirkan aliran Islam ini tidak pernah berbenturan satu sama lainnya sebab tidak pernah ada niatan untuk melakukan intervensi terbuka di ruang publik. Seakan menyadari, samawi yakni urusan personal. Kehadiran mitra-kawan usang Ustad Jaiz lah akar dari segala persoalan. Mereka menunjukkan sikap sama sekali tak erat atau bisa juga dikata “kecongkakan religius” – menempatkan diri sebagai Tuhan dengan segala penghakiman-penghakimannya. Langkah pertama yang dilakukan ialah menguasai Masjid, mengharamkan segala bentuk aktivitas diluar aliran yang tertuang di Al-Qur’an dan Hadits. Tidak berhenti sampai disana, mereka pun menghalangi Sandra yang selama ini diterima dengan baik untuk sholat dan berujung pada pengusiran dari masjid. 

Perebutan masjid memang konkret adanya – saya pernah menyaksikannya secara pribadi di Semarang beberapa tahun lampau ketika merantau dan hampir saja terjadi di kampung halaman – lalu bagaimana dengan waria dilarang beribadah? Mungkin sekali pernah dijumpai kasusnya. Kedekatannya pada realita inilah yang memudahkan untuk terhubung pada jalinan pengisahan yang ditawarkan oleh Bid’ah Cinta. Sekalipun bukan terhitung provokatif, malah penyampaiannya sesekali lucu, kebesaran hati disertai keterbukaan pikiran tetaplah perlu dijadikan sebagai landasan utama biar mampu mencerna maksud dibalik paparan Nurman dalam film ini yang sekali lagi perlu ditekankan yaitu mengajak penonton bersikap toleran alih-alih memecah belah umat. Apabila kedua syarat tersebut telah terpenuhi, Bid’ah Cinta akan berkembang menjadi menjadi tontonan bernutrisi bagi otak. Mewartakan berita bermanfaat untuk awam, sementara mereka yang pernah berada (atau minimal mengetahui) dalam situasi serupa dihadapi para penduduk kampung di film diajak untuk berpikir, melakukan perenungan mendalam, serta berdiskusi cerdas bersama kawan. Bukankah akan bikin adem hati apabila setiap Muslim bersedia untuk mendapatkan perbedaan mirip ditampakkan pada adegan mula-mula dan penghujung Bid’ah Cinta? Mengingat karakter etnisitas kebangsaan di Indonesia tergolong beragam, tak pelak perbedaan akan senantiasa menyertai dan satu-satunya cara untuk menjembatani perbedaan adalah merayakannya. Menghargainya. Atau seperti kata Kamal, dengan cinta. Sungguh sebuah film yang cantik!

Outstanding (4/5)


Post a Comment for "Review : Bid'ah Cinta"