Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review : A: Aku, Benci, Dan Cinta


“Selama lo ada dan gue ada, kita itu bagaikan pagi dan malam. Air dan api. Yin dan yang. Malaikat dan iblis. Dan lo malaikatnya.” 

Perseteruan tiada akhir antara seorang cewek dengan seorang perjaka, seorang cowok yang gemar bergonta-ganti pasangan dalam hitungan pekan, persahabatan yang terancam mengalami keretakan jago, seorang kekasih yang terbujur koma, dan cinta bertepuk sebelah tangan. Sejumlah plot bercita rasa dramatis yang bisa kamu temui terhampar dalam A: Aku, Benci, dan Cinta yang didasarkan pada novel akil balig cukup akal laris rekaan Wulanfadi. Materi sumbernya memang menjurus ke ranah melodrama yang mengajak pembacanya bertangis-tangisan dan trailer resmi dari film produksi MD Pictures ini telah mengisyaratkan bahwa versi layar lebarnya akan menempuh jalur yang kurang lebih serupa dengan sejumput bumbu komedi. Rasa-rasanya bakal sebelas dua belas dengan penyampaian Dear Nathan lah. Mempersiapkan diri untuk dibuat gemes-gemes kemudian bercucuran air mata sebelum melangkahkan kaki ke dalam bioskop, tanpa disangka-sangka ternyata Rizki Balki selaku sutradara menentukan melantunkan A: Aku, Benci, dan Cinta dengan pendekatan berbeda. Menghempas manja sisi mendayu-dayu, sang sutradara menginjeksi lebih banyak keceriaan yang membuat film mempunyai elemen komedi kental. 

Bertindak sebagai narator dalam A: Aku, Benci, dan Cinta yakni perempuan berwatak keras bernama Anggia (Indah Permatasari) yang menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS di SMA National High. Melalui narasinya, ia membagi sudut pandangnya yang sinis terhadap sang Ketua OSIS, Alvaro (Jefri Nichol), yang dilihatnya sekadar tebar-tebar pesona dan bergonta-ganti cewek tanpa pernah melakukan kerja aktual. Dendam kesumat lantaran ambisinya menduduki tampuk tertinggi dalam struktur organisasi siswa di sekolah dipupuskan Alvaro, maka apapun yang dilakukan Alvaro selalu buruk di mata Anggia sekalipun sang sahabat, Tara (Syifa Hadju), kesengsem berat dengan Alvaro yang disebut-sebut sebagai pemuda terkeren di sekolah. Kebencian Anggia kepada pemuda ini kian memuncak sehabis keduanya berselisih gagasan mengenai program prom night dalam rapat OSIS. Namun kebencian itu tak bertahan lama karena semesta sepertinya terus berusaha untuk menyatukan mereka. Pihak sekolah mewajibkan Anggia untuk berlatih musik dengan Alvaro selama beberapa hari demi memperbaiki nilai mata pelajaran kesenian. Bersama dengan Alvaro dari waktu ke waktu, lambat laun mengubah persepsi Anggia dan diam-diam muncul percikan api asmara diantara keduanya.


Sebetulnya, kalau ditinjau dari sisi guliran pengisahan sih A: Aku, Benci, dan Cinta tidak memberikan pembaharuan apapun. Plotnya generik: dua orang saling benci, lalu lama-usang timbul rasa suka satu sama lain, begitu hendak bersatu eh ternyata selama ini ada orang ketiga dalam kehidupan masing-masing. Karakter yang mempersulit laju korelasi Alvaro dan Anggia di A: Aku, Benci, dan Cinta yakni Athala (Amanda Rawles), perempuan dari kala lalu Alvaro yang terbaring koma, beserta Alex (Brandon Salim), sobat baik dari kakak Anggia. Yang kemudian membuatnya terasa tetap menyenangkan buat ditonton ialah bagaimana cara Rizki Balki menghantarkan kisah kasih empat remaja ini. Ketimbang menggulirkannya dengan rentetan momen mengharu biru, sang sutradara beserta Alim Sudio selaku penulis skenario memilih untuk menghadirkannya mengikuti semangat akil balig cukup akal pemakai seragam putih bubuk-bubuk yang seringkali ceria dan menggebu-nggebu. Suatu pendekatan menyegarkan untuk film percintaan Indonesia yang mau tak mau mengingatkan kita kepada film bergenre komedi romantis buatan negara tetangga, Thailand. Terlebih formulanya pun senada, momen penuh kemesraan dari huruf yang tengah kasmaran digeber seraya ngelaba konyol-konyolan. 

Disamping Athala dan Alex, setiap aksara inti maupun pendukung diberikan kesempatan untuk unjuk kemampuan dalam melucu. Bahagianya, mereka berhasil menghantarkan momen komedik secara mulus terutama Syifa Hadju sebagai teman yang amit-amit ganjennya, TJ Ruth sebagai guru Anggia yang cerewet bukan main, serta Indah Permatasari yang dipenuhi imajinasi-imajinasi liar. Ya, sosok Anggia memang dideskripsikan sekeras kerikil nyaris tak pernah menyunggingkan senyum selain kepada Tara, namun tak jarang pula beliau bertingkah lebay terlebih saat dia mulai berpikir macam-macam ihwal situasi di sekitarnya. Visualisasi dari imajinasinya itu lho, lucu sekali. Kendati jor-joran dalam bercanda, A: Aku, Benci, dan Cinta sama sekali tak melupakan fitrahnya sebagai film romansa dengan menghadirkan sejumlah adegan unyu-unyu menggemaskan yang melibatkan para protagonis utama dan diiringi skoring musik apik gubahan Donny Irawan beserta Alfa Dwiagustiar yang membantu mempertebal rasa. Sisi romantis film yang aib-malu kucing di awal mulai semakin terdeteksi rasanya seiring berjalannya durasi. Seiring semakin menguatnya chemistry diantara Jefri Nichol, Indah Permatasari, dan Amanda Rawles yang sanggup menciptakan penonton yakin bahwa ketiga cukup umur ini memang tengah kasmaran.

Exceeds Expectations (3,5/5)


Post a Comment for "Review : A: Aku, Benci, Dan Cinta"