Review : Ae Dil Hai Mushkil
“We can’t choose when to fall in love, but we can choose when to walk away.”
Sudah cukup lama diri ini tidak mendapati nama Karan Johar mengemban kredit sebagai sutradara. Selepas meluncurkan Student of the Year (2012), putra dari sutradara legendaris, Yash Johar, yang kini mengelola rumah produksi Dharma Productions ini lebih asyik menempati bangku produser. Baru menjelang perayaan Diwali (hari raya bagi umat Hindu di India) di tahun 2016, Karan yang memulai karir penyutradaraannya dengan menggarap film fenomenal Kuch-Kuch Hota Hai kembali menyapa para penikmat tontonan Bollywood. Lewat kreasi termutakhirnya bertajuk Ae Dil Hai Mushkil, atau mempunyai makna this heart is complicated, sekali lagi Karan bermain-main di zona yang membesarkannya, disayanginya, serta dikuasainya betul-betul. Itu berarti, film tersusun atas elemen-elemen berikut ini: 1) pelakon utama bertampang rupawan, 2) lokasi pengambilan gambar mengagumkan yang kebanyakan berada di luar India, 3) plot terkait kekerabatan percintaan rumit, 4) nomor-nomor musikal renyah di indera pendengaran, 5) melodrama penguras air mata, 6) tata produksi diatas rata-rata, dan 7) durasi melampaui 2,5 jam. Pengecualian untuk My Name is Khan, kamu bisa mendapati adanya tujuh unsur tersebut di film-film Karan termasuk Ae Dil Hai Mushkil.
Seperti hasil dari pernikahan antara Kuch-Kuch Hota Hai dengan Kal Ho Naa Ho (skripnya ditulis Karan dan Niranjan Iyengar yang juga meracik film ini), Ae Dil Hai Mushkil bertutur mengenai rumitnya kekerabatan dua sobat, Ayan (Ranbir Kapoor) dan Alizeh (Anushka Sharma). Bermula dari kegagalan mereka bercumbu mesra lantaran ciuman Ayan dianggap ajaib bagi Alizeh, keduanya lantas menentukan menghabiskan waktu bersama dengan ngobrol sana-sini soal kehidupan percintaan sampai kegemaran masing-masing. Dipersatukan oleh kecintaan terhadap Bollywood di era 80’an, Ayan dan Alizeh akibatnya memutuskan untuk lebih sering nongkrong bareng terlebih keduanya tidak mempunyai kesibukan berarti. Keriaan demi keriaan yang dilewati bersama mencapai ujungnya era mereka bertandang ke Paris demi mengobati lara di hati Ayan sehabis putus dari sang kekasih. Siapa menyangka di sana Alizeh justru berjumpa dengan seseorang dari era kemudian yang seketika merenggangkan persahabatannya dengan Ayan. Dibuat kecewa oleh keputusan Alizeh yang sejatinya dicintainya, Ayan memutuskan menjauhi sahabatnya tersebut dan mencoba menjalin hubungan bersama Saba (Aishwarya Rai Bachchan). Saat sepertinya masing-masing telah melanjutkan hidup, sebuah reuni kecil meruntuhkan segalanya.
Ae Dil Hai Mushkil adalah kesempatan paling sempurna bagi kita untuk mengucap, “selamat datang kembali, Karan Johar!.” Memang sih ini bukan tergolong film terbaik yang pernah diproduksi Karan bersama Dharma – bagaimanapun juga, Kuch-Kuch Hota Hai dan Kabhi Khushi Kabhie Gham yakni karyanya paling juara sampai kini – namun tetap sebuah comeback memuaskan apalagi seusai Student of the Year yang kurang greget itu. Ae Dil Hai Mushkil yang jelas-terang berada di ranah kekuasaan Karan merupakan bukti bahwa sutradara ini masih cakap dalam menghantarkan kisah. Tengok saja, sepintas muatan kisah dari film keenamnya ini terdengar usang mengingat plot “sahabat tapi mesra” atau friendzone sudah berulang kali dijamah. Yang kemudian membuatnya berasa segar sekaligus enak untuk disantap ialah kepiawaiannya mengemas berikut menyampaikannya ke khalayak ramai. Ini tidak semata-mata gelaran melodrama picisan wacana cinta bertepuk sebelah tangan mirip pernah dikuliknya melalui Kuch-Kuch Hota Hai atau Kal Ho Naa Ho, tapi dia mencoba menggalinya lebih mendalam dengan memberi pembacaan sarat obrolan-dialog menggugah anutan terhadap beberapa jenis cinta lain yaitu cinta berlandaskan nafsu dan cinta platonik, yang akan membawamu pada perenungan soal ‘relationship’.
Berat? Sama sekali tidak. Dibalik kupasan cenderung filosofisnya, di permukaan Ae Dil Hai Mushkil masihlah tontonan meriah ala Karan Johar yang memuat tujuh unsur seperti dikemukakan pada paragraf pembuka. Mula-mula film disajikan energik mengenalkan kita ke sosok Ayan dan Alizeh. Selama setidaknya satu jam pertama ini, film bergerak semau-mau gue mengikuti jiwa penuh kebebasan – bila tak mau juga dibilang agak kekanakan – dari kedua tokoh utamanya. Antisipasi munculnya tembang-tembang menghentak bernafaskan EDM disertai koreografi heboh, referensi cerdas ke dunia Bollywood kurun 80’an, sampai riuh tawa bersumber dari tingkah laris konyol Ayan maupun ledekan terhadap keklisean film-film Bollywood (contoh: adegan tari hanya berbalut kain sari di pegunungan bersalju), di paruh ini. Lalu, terhitung sedari dilantunkannya nomor sendu berjudul Channa Mereya yang menandai pertama kalinya Ayan mampu memaknai patah hati, nada film berkelok ke arah melodrama. Tanpa pernah tersandung menjadi kelewat menye-menye, dari sisi muram, Ae Dil Hai Mushkil pun mempunyai satu dua momen merobek hati yang berkesan ditambah nomor-nomor balada cakep (favorit ada di Ae Dil Hai Mushkil dan Bulleya) yang turut memosisikannya sebagai film India dengan soundtrack paling ciamik tahun ini. Bagi saya, gugurnya air mata paling jago terjadi di adegan melatari mengalunnya Channa Mereya dan makan malam yang mempertemukan Ayan, Alizeh, serta Saba untuk pertama kali. Tanpa banyak dilontari kata-kata, hanya mengandalkan air muka dari ketiga pemain utama, momen ini menyuarakan kekecewaan dan sakit hati secara lantang.
Kunci terletak di akting jempolan barisan pemainnya. Ae Dil Hai Mushkil sangat diberkahi memiliki pemain film aktris sekaliber Ranbir Kapoor, Anushka Sharma, dan Aishwarya Rai Bachchan di lini terdepan kemudian penampil singkat seperti Fawad Khan, Lisa Hayden, serta Shah Rukh Khan yang mencuri perhatian di kemunculan masing-masing. Ranbir mencurahkan segenap kemampuannya demi menghidupkan aksara Ayan yang labil pula sedikit childish. Ada kalanya berasa menyebalkan, namun seringkali beliau terlihat sebagai sosok adorable yang sulit dibenci. Interaksi hidupnya bersama Anusha Sharma – sekali lagi menawarkan bahwa beliau salah satu aktris Bollywood periode kini yang bagus – menggerakkan roda film. Kita meyakini mereka adalah sahabat sejati dan ketika salah satu menetapkan berpisah, tertinggal luka di hati penonton. Aishwarya Rai Bachchan yang ternyata oh ternyata mendapatkan jatah porsi tampil sekelumit (damn!) juga jauh dari kata mengecewakan. Malah, beliau tampil sangat menghipnotis. Di tangannya, Saba bermetamorfosis sebagai sosok ‘mematikan’ yang mencuat dari hasil kombinasi cantik, cerdas, seksi, dan elegan. Tambahkan dengan pengarahan jempolan dari Karan, skrip cukup berisi, dan tembang-tembang musikal gubahan Pritam yang easy listening, Ae Dil Hai Mushkil adalah salah satu persembahan paling menawan dari Bollywood tahun ini.
Exceeds Expectations (3,5/5)



Post a Comment for "Review : Ae Dil Hai Mushkil"