Review : Ghost In The Shell
“They created me. But they can not control me.”
Sekalipun Astro Boy (2009), Dragonball Evolution (2009), serta Speed Car (2008) mengantongi resepsi tak memuaskan dari kritikus maupuk publik, agaknya Hollywood masih belum juga jera untuk mengejawantahkan gesekan-tabrakan gambar komikus Jepang ke dalam medium audio visual sesuai gambaran mereka. Malahan Hollywood pun terbilang amat percaya diri terbukti dari keberanian mereka mempersiapkan beberapa judul pembiasaan dari manga/anime lain untuk stok di kurun mendatang sekaligus menafsirkan ulang Ghost in the Shell yang dikenal memiliki muatan cerita cukup njelimet. Ya, proyek film Ghost in the Shell – berdasarkan manga bertajuk serupa hasil karya Masamune Shirow rilisan dua dekade silam yang lantas diubahsuaikan pula ke anime – yang sejatinya telah dicanangkan sejak lama kesannya berhasil diwujudkan juga oleh Paramount Pictures dengan menempatkan Rupert Sanders (Snow White and the Huntsman) dibalik kemudi. Jalannya pun tidak juga mulus, sempat diwarnai kontroversi atas pemilihan Scarlett Johansson sebagai pemeran utama yang notabene berdarah Jepang (whitewashing!), walau bagi aku pribadi penunjukkan Sanders untuk mengomandoi Ghost in the Shell versi Hollywood semestinya lebih dikhawatirkan ketimbang perekrutan Johansson menyelidiki apa yang telah dilakukannya di film terdahulu.
Penceritaan Ghost in the Shell mengambil latar beberapa tahun ke depan di kota tanpa nama era teknologi telah amat maju yang memungkinkan adanya pencangkokkan otak insan dalam tubuh robot. Salah satu korporasi yang ulet menyebarkan robot dengan kecerdasan buatan ialah Hanka Robotics. Berbagai eksperimen rahasia untuk menyempurnakan robot buatan mereka telah dilaksanakan puluhan kali dengan hasil mengecewakan sampai balasannya Dr. Ouelet (Juliette Binoche) dan CEO Hanka, Cutter (Peter Ferdinando), berhasil menyebarkan produk sempurna dalam wujud Mira Killian (Scarlett Johansson). Setahun berselang sedari dilahirkan ke dunia, Mira dipercaya untuk menempati posisi Mayor dalam tim keamanan anti terorisme, Section 9, dibawah kepemimpinan Chief Daisuke Aramaki (Takeshi Kitano). Bersama dengan Batou (Pilou Asbæk), Mira ditugaskan untuk menelusuri rencana kejahatan terhadap Hanka Robotics yang belakangan diketahui digawangi oleh seorang hacker bernama Kuze (Michael Pitt). Di tengah-tengah penyelidikannya terhadap Kuze, Mira kerap dibayangi kelebatan-kelebatan misterius dari kurun lalu yang kemudian mendorong Cutter untuk menghentikan langkah Mira. Mencoba pula mencari tahu kebenaran dibaliknya, Mira justru memperoleh paparan fakta mengejutkan dari sesosok yang tidak pernah disangka-sangka olehnya.
Penceritaan Ghost in the Shell mengambil latar beberapa tahun ke depan di kota tanpa nama era teknologi telah amat maju yang memungkinkan adanya pencangkokkan otak insan dalam tubuh robot. Salah satu korporasi yang ulet menyebarkan robot dengan kecerdasan buatan ialah Hanka Robotics. Berbagai eksperimen rahasia untuk menyempurnakan robot buatan mereka telah dilaksanakan puluhan kali dengan hasil mengecewakan sampai balasannya Dr. Ouelet (Juliette Binoche) dan CEO Hanka, Cutter (Peter Ferdinando), berhasil menyebarkan produk sempurna dalam wujud Mira Killian (Scarlett Johansson). Setahun berselang sedari dilahirkan ke dunia, Mira dipercaya untuk menempati posisi Mayor dalam tim keamanan anti terorisme, Section 9, dibawah kepemimpinan Chief Daisuke Aramaki (Takeshi Kitano). Bersama dengan Batou (Pilou Asbæk), Mira ditugaskan untuk menelusuri rencana kejahatan terhadap Hanka Robotics yang belakangan diketahui digawangi oleh seorang hacker bernama Kuze (Michael Pitt). Di tengah-tengah penyelidikannya terhadap Kuze, Mira kerap dibayangi kelebatan-kelebatan misterius dari kurun lalu yang kemudian mendorong Cutter untuk menghentikan langkah Mira. Mencoba pula mencari tahu kebenaran dibaliknya, Mira justru memperoleh paparan fakta mengejutkan dari sesosok yang tidak pernah disangka-sangka olehnya.
Keragu-raguan atas kapabilitas Rupert Sanders dalam menangani materi senjelimet yang dipunyai Ghost in the Shell, sayangnya harus terbukti. Tidak berbeda jauh dengan apa yang dilakukannya pada Snow White and the Huntsman, Sanders pun lebih mengedepankan soal tampilan ketimbang substansi dalam Ghost in the Shell. Dampaknya yakni film enak buat dipandang mata namun tuturannya sulit buat meresap ke dalam hati. Ya, Ghost in the Shell terang sama sekali tidak kekurangan materi untuk menciptakan para penontonnya takjub era mengamati parade visualnya yang imajinatif. Dari latar kota futuritisnya – tampak mirip perpaduan antara Jepang dengan Hong Kong – yang dipenuhi gemerlap neon disana sini dan dimeriahkan iklan berbentuk hologram raksasa, kemudian desain robot unik dengan salah satunya berbentuk Geisha yang bisa berkembang menjadi sebagai mesin pembunuh, sampai tentunya paras rupawan Scarlett Johansson yang sedikit banyak berhasil mempengaruhi penonton untuk mengikuti sepak terjang Mira sekalipun tidak cukup memiliki ketertarikan terhadap sosoknya dan performanya pun tak ada greget (setuju, ini bias!). Namun saat membicarakan soal jalinan pengisahan yang diusung, lain lagi ceritanya. Film tidak dibekali amunisi mencukupi supaya penonton dapat terhanyut secara sukarela memasuki dunia Mira.
Ghost in the Shell bantu-membantu tawarkan bahan cerita cukup menarik untuk diikuti. Si pembuat film memboyong kita ke dalam penyelidikan Mira terhadap suatu kasus yang lantas berganti dengan pencarian atas jati dirinya. Hanya saja ketiadaan daya cengkram menjadi sabab musabab dari ketidakmampuan menaruh ketertarikan pada guliran dongeng. Disamping itu, masih semacam ada sekat yang membatasi kita untuk menjalin relasi akrab bersama Mayor Mira. Tatkala kita tidak sanggup menginvestasikan emosi kepada tokoh kunci, sedahsyat apapun persoalan yang dihadapinya pun akan membal. Keinginan untuk mengetahui ujung dari cerita bukan lagi dipicu kepedulian terhadap nasib sang aksara utama melainkan tidak adanya lagi kesabaran tersisa dalam mengikuti proses. Pada jadinya, diluar geberan visualnya yang memukau, Ghost in the Shell tidak lebih dari film yang kering, hambar, dan cuek. Keputusan untuk kelewat menyederhanakan penceritaan dengan menghempaskan pembicaraan soal eksistensialisme dan hiperrealitas yang sejatinya disodorkan oleh bahan sumbernya, turut berkontribusi pada tergerusnya daya tarik Ghost in the Shell. Khalayak yang tiba memenuhi bioskop demi memperoleh tontonan yang bukan saja elok tetapi juga bernutrisi bagi otak bisa jadi akan kecewa. Bahkan buat mereka yang mengharap ini yakni spektakel seru pun sebaiknya mengontrol ekspektasi karena tata tubruk di Ghost in the Shell tidaklah impresif. Malah terkadang sama malasnya dengan caranya menuturkan cerita.
Acceptable (2,5/5)



Post a Comment for "Review : Ghost In The Shell"